Predigt Eid al-Fitr 1446 H

(Freie Übersetzung von Khutbah Idul Fitri 1446 H) Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamin,Alles Lob gebührt Allah für Seine unzähligen Gaben, die Er uns aus Seiner unendlichenBarmherzigkeit und aus Seiner Gnade gewährt hat. Eine dieser Gaben ist, das wir Ihn anbeten und Ihm näherkommen können. Mit dem Ruf des Takbir feiern wir nun Weiterlesen…

Khutbah Idul Fitri 1446H

oleh: Ustaz Muhammad Irwan Khoirudin(Terjemahan bebas dalam bahasa Jerman ada di Predigt Eid al-Fitr 1446 H) اَللّٰهُ أَكْبَرُ، اَللّٰهُ أَكْبَرُ، اَللّٰهُ أَكْبَرُ … اَللّٰهُ أَكْبَرُ، اَللّٰهُ أَكْبَرُ، اَللّٰهُ أَكْبَرُ … اَللّٰهُ أَكْبَرُ، اَللّٰهُ أَكْبَرُ، اَللّٰهُ أَكْبَرُ. كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ لِلّهِ كَثِيرًا وَسُبْحَانَ اللّٰهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا. لآ إِلهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ، صَدَقَ Weiterlesen…

BAB V, VI dan VII : MUQADDIMAH BERKENAAN PERKARA WUJUD, MUMKIN DAN SIFAT AZALI. Kajian Kitab Al Muqaddimah karya Imam As-Sanusi bersama Dr. Habib Ali Bagir As-Seggaf (11)

BAB V: MUQADDIMAH BERKENAAN PERKARA WUJUD Perkara yang wujud, dari aspek tempat (المحل) dan pengkhusus (المخصص) terbahagi kepada empat bahagian. Sebelum kita membahas empat bahagian itu, mari kita membahas definisi tempat (المحل) dan pengkhusus (المخصص) yang dimaksud oleh Imam As-Sanusi dalam pembahagiannya.Tempat (المحل) : Tempat yang dimaksud adalah semacam wadah Weiterlesen…

BAB IV : MUQADDIMAH BERKENAAN USUL KUFUR DAN BID’AH – bagian 2. Kajian Kitab Al Muqaddimah karya Imam As-Sanusi bersama Dr. Habib Ali Bagir As-Seggaf (10)

Setelah kita membahas 2 perkara yang berkenaan dengan usul kufur dan bid’ah, kita melanjutkan dengan jenis berikutnya yaitu: 3. Taqlīd Radī’ (taqlid yang buruk) Yaitu keyakinan seseorang dengan taqlid (mengikuti) orang lain dengan tujuan mendapatkan perlindungan atau juga perasaan taksub tanpa belajar ilmu untuk mencari kebenaran. Orang ini taqlid buta Weiterlesen…

BAB IV : MUQADDIMAH BERKENAAN USUL KUFUR DAN BID’AH – bagian 1. Kajian Kitab Al Muqaddimah karya Imam As-Sanusi bersama Dr. Habib Ali Bagir As-Seggaf (9)

Makna Kufur dan Bid’ah Di antara manfaat ilmu Kalam adalah dapat mengidentifikasi akar atau induk daripada segala kejahatan dan keburukan/durhaka kepada Allah yang menyebabkan seseorang itu tersesat dari jalan yang lurus, yaitu kufur dan bid’ah. Kufur adalah kejahatan/keburukan dan dosa yang menyebabkan seseorang keluar dari Islam. Sedangkan bid’ah adalah kejahatan/keburukan Weiterlesen…

BAB III : MUQADDIMAH BERKENAAN DENGAN JENIS SYIRIK – bagian 2. Kajian Kitab Al Muqaddimah karya Imam As-Sanusi bersama Dr. Habib Ali Bagir As-Seggaf (8)

Dalam kajian sebelumnya kita telah membahas 4 jenis syirik. Setelah itu masih ada dua jenis syirik yang agak berbeda dari 4 syirik sebelumnya, Syirik ini terjadi bukan karena seseorang menyembah tuhan selain Allah secara langsung. Dua jenis Syirik itu adalah. 5. Syirik Asbab Syirik ini adalah syirik yang terjadi jika Weiterlesen…

BAB III : MUQADDIMAH BERKENAAN DENGAN JENIS SYIRIK – bagian 1. Kajian Kitab Al Muqaddimah karya Imam As-Sanusi bersama Dr. Habib Ali Bagir As-Seggaf (7)

Makna Syirik Syirik adalah meyakini bahwa ada selain Allah yang mempunyai kemampuan yang ada pada Allah. Ulama menjelaskan ada 3 Kemampuan khusus yang ada hanya pada Allah. Semua perbuatan syirik akan kembali kepada 3 Kemampuan khusus ini. Jika ada orang yang meyakini ada selain Allah yang mempunyai salah satu saja Weiterlesen…

BAB II : MUQADDIMAH GOLONGAN FAHAM YANG BERKAITAN DENGAN PERBUATAN MANUSIA. Kajian Kitab Al Muqaddimah karya Imam As-Sanusi bersama Dr. Habib Ali Bagir As-Seggaf (6)

Memahami tiga jenis hukum yang telah kita bahas pada kajian sebelum ini adalah dasar untuk kita memahami thema yang akan dibahas di bab ini yaitu tentang perbedaan mazhab (golongan) yang berkaitan dengan perbuatan manusia. Dalil Naqli tentang perbuatan manusia Dalam hukum Wadh’i yang diwahyukan, Allah berfirman dalam Al Qur’an Surat Weiterlesen…

Jenis Hukum: 3. Hukum Akal. Kajian Kitab Al Muqaddimah karya Imam As-Sanusi bersama Dr. Habib Ali Bagir As-Seggaf (5)

3. Hukum Akal Hukum akal adalah bukan diciptakan oleh Allah seperti hukum Wadh’i/Syariat dan hukum adat. Hukum akal dapat difahami dengan akal itu sendiri, karena bukan bersumber dari ketetapan Allah atau aturan yang dibuat oleh manusia. sebagaimana hukum Wadh’i. Demikian juga bukan bersumber dari fenomena alam yang terjadi berulang-ulang atau Weiterlesen…

de_DEGerman