Pentingnya Menanamkan Aqidah Ahlussunnah wal Jamaah Sejak Dini

Menanam Aqidah Ahlussunnah wal Jamaah adalah penting dilakukan dari sejak dini. Mengingat anak-anak di usia itu mudah dibentuk dan dipengaruhi. Apalagi kita hidup di masyarakat yang beragam, yang memerlukan ketahanan diri dalam menghadapi berbagai pemikiran dan faham yang menyimpang dari Aqidah Ahlussunnah wal Jamaah. Penanaman nilai-nilai ini mesti dilakukan dengan pendidikan dari sejak dini. Tugas mendidik ini adalah tanggung jawab dari orang tua, agar anak dan orang tua dapat bersama tidak hanya di dunia, tetapi juga di akhirat dengan Iman dan Islam.

Makna Pendidikan

Untuk dapat mendidik anak, kita perlu memahami arti pendidikan itu secara utuh, agar dapat melaksanakannya dengan sebaik-baiknya. Ada 3 makna pendidikan:
1. Menjaga fitrah anak. Anak dilahirkan dalam keadaan fitrah yaitu beriman kepada Allah, sebagaimana telah disebutkan dalam QS Al A’raf:172

وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنۢ بَنِىٓ ءَادَمَ مِن ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ ۖ قَالُوا۟ بَلَىٰ ۛ شَهِدْنَآ ۛ أَن تَقُولُوا۟ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَٰذَا غَٰفِلِينَ

Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”
Maka ketika seorang anak lahir, anak ini telah bersiap menyerahkan diri (Islam) untuk mentaati seluruh perintah Allah dan menjauhi laranganNya. Tugas orang tua adalah menjaga keadaan fitrah anak mereka. Jika orang tua tidak menjaganya maka mereka telah menistakan anaknya sendiri.

2. Mengembangkan fitrah anak. Ketika anak baru lahir, mereka belum mempunyai pengetahuan tentang Allah, tentang aturan Allah yaitu suruhan dan laranganNya, serta bagaimana anak dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Tugas pendidikan adalah mengembangkan fitrah anak ini dengan memberikan ilmu, sikap tauladan dan ketrampilan.

3. Pendidikan mesti dilaksanakan dengan sistimatis sesuai dengan kemampuan dan perkembangan usia dan bakat anak. Agar anak dapat mengembangkan fitrahnya sesuai dengan perkembangan usia, minat dan bakatnya.

Apa itu Aqidah Ahlussunnah wal Jamaah?

Untuk dapat menanamkan Aqidah Ahlussunnah wal Jamaah sejak dini, kita mesti mengetahui
Apa itu Aqidah Ahlussunnah wal Jamaah dan siapa Ulama yang menjadi representasi Ulama Aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah?

Aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah adalah aqidah yang mengikuti manhaj (cara pemahaman) salafussalih yaitu Rasulullah shallallahu alaihi wassalam, para Shahabatnya radhiallahu ‘anhum dan pengikut mereka sampai 3 abad pertama Hijriyah.

Aqidah ini adalah aqidah yang autentik yang diajarkan secara bersanad dari Rasulullah, kemudian kepada Shahabat, Tabi’in, Tabi’ut Tabi’in kemudian disampaikan kepada ulama generasi berikutnya, dan terus sambung menyambung dan sampai Ulama di zaman kita dan akhirnya sampai kepada kita.
Apakah ada aqidah yang tidak autentik di zaman kita ini. Jawabnya ada. Yaitu aqidah yang telah melakukan bid’ah yaitu keyakinan baru yang tidak dari Rasulullah shallallahu alaihi wassalam, karena mengikuti kejahilan hawa nafsu dan kesesatan.

Aqidah Ahlussunnnah wal Jama’ah ini kemudian dikembangkan oleh Ulama cara pengajarannya dengan sistematis sehingga menjadi satu disiplin ilmu agar dapat mudah difahami oleh generasi berikutnya, karena adanya perkembangan zaman dan perubahan keadaan komposisi umat Islam, agar mereka dapat tetap memegang nilai Ahlussunnah wal Jama’ah yang autentik seperti di zaman Rasulullah shallallahu alaihi wassalam.

Ulama Ahlussunnah wal Jama’ah

Tokoh Ulama yang telah menyusun metode yang sistematis dipelopori oleh Imam Abul Hasan Al Asy’ari dan Imam Abu Mansur Al Maturidi, yang diteruskan oleh Ulama dari zaman ke zaman secara bersambung hingga sekarang. Kedudukan Imam Abul Hasan Al Asy’ari dan Imam Abu Mansur Al Maturidi dalam menyusun metode ilmu Aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah untuk melaksanakan Rukun Iman adalah seperti 4 Imam Mazhab, Imam Abu Hanifah, Imam Malik bin Anas, Imam Muhammad Asy-Syafei dan Imam Ahmad bin Hanbal dalam menyusun Ilmu Fikih untuk melaksanakan Rukun Islam.
Dengan ini identitas Ulama Ahlussunnah wal Jama’ah sangat mudah dikenali, yaitu
– Aqidahnya mengikuti metode pemahaman Imam Abul Hasan Al Asy’ari dan Imam Abu Mansur Al Maturidi. Sering disebut Ulama Asy’ariyah dan Maturidiyah
– Fikihnya bermazhab dengan mengikuti salah satu dari Imam Mazhab yang 4 yang di atas. Sehingga Mazhabnya disebut sesuai dengan nama Ulamanya yaitu Mazhab Hanafi, Mazhab Maliki, Mazhab Syafei dan Mazhab Hambali.

Orang Tua Mesti Ikut Belajar dan Memahami Ilmu

Ada pepatah yang berbunyi : buah tidak jatuh jauh dari pohonnya oder (air) garam tidak menetes ke atas. Maksudnya orang tua mesti ikut belajar dan memahami dahulu ilmu Aqidah yang akan diajarkan kepada anaknya, sebagai keteladanan untuk anaknya, karena biasanya anak akan meniru orang tuanya. Jika kita tidak mempunyai maka kita tidak dapat memberi. Seperti fotokopi yang menyerupai dokumen aslinya.
Oleh sebab itu sikap dan aqidah orang tua adalah faktor lingkungan yang mempengaruhi tumbuh kembang dari anaknya. Oleh sebab itu nilai kefitrahan orang tua akan mempengaruhi nilai kefitrahan anaknya.
Tanggung jawab mendidik tetap ada pada orang tua. Guru dan sekolah tidak dapat menggantikan tanggung jawab orang tua, melainkan hanya mitra yang mendampingi orang tua dalam mendidik anak, bukan menggantikan sepenuhnya tanggung jawab dari orang tua. Oleh sebab itu, Allah akan menanyakan orang tua tentang pendidikan anak sebelum menanyakan kepada gurunya.

Mengajarkan Enam Rukun Iman

Perkara yang penting untuk diajarkan kepada anak adalah enam Rukun Iman yaitu percaya kepada:

  1. Allah
  2. MalaikatNya
  3. Kitab SuciNya
  4. Rasul dan NabiNya
  5. Hari Kiamat
  6. Takdir baik dan buruk

Tentu dalam mengajarkan Rukun Iman ini disesuaikan dengan usia dan kemampuan anak untuk menerimanya. Yang terpenting adalah walaupun itu masih hanya menghafal pada awalnya, mereka sudah menerima tentang pentingnya meyakini Rukun Iman ini. Dengan berjalannya waktu, jika anak sudah mulai dapat berfikir, anak mulai diajarkan dengan dalil naqli (Quran dan Hadits) dan dalil aqli (akal), agar mereka dapat memahami dan lebih teguh meyakini Rukun Iman. Sebagaimana yang diajarkan oleh Ulama yang mengikuti Aqidah Ahlussunnah wal Jamaa’ah yang disebut di atas.

Mempelajari Rukun Islam dan Mengamalkannya.

Orang tua sudah mulai mengajarkan Rukun Islam yang lima dari kecil yaitu

1. Membaca Dua Kalimat Syahadat. Diajarkan membacanya dan maknanya sesuai dengan usianya.
2. Sholat 5 waktu. Diajarkan untuk dilaksanakan agar menjadi kebiasaan sesuai dengan usianya. Walaupun mereka belum diwajibkan, dan mungkin tidak dapat melaksanakan secara lengkap, mereka menerima adanya kewajiban sholat 5 waktu.
3. Puasa di bulan Ramadhan. Diajarkan untuk dilaksanakan walaupun belum sempurna, agar mengenal dan menerima kewajiban puasa di bulan Ramadhan
4. Membayar Zakat.
5. Naik Haji jika mampu.

Walaupun semua amalan Rukun Islam ini adalah amalan lahiriah, tetapi dari amalan yang dibiasakan ini memupuk iman dan ada di dalam hatinya.

Mengajarkan Kehadiran Allah

Anak kita mesti diajarkan dari kecil akan kehadiran Allah bersama kita setiap saat.
1. Mengajarkan Sifat-Sifat Allah dalam kehidupan anak, yaitu Sifat yang Wajib, yang Mustahil dan yang Mungkin bagi Allah
2. Menjaga selalu hak Allah, yaitu mentaati suruhanNya dan menjauhi laranganNya, agar Allah menjaga kita. Sebagaimana yang disebutkan dalam Hadits Ibnu Abbas.
Dari Sayidina Abdullah bin Abbas radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wassalam bersabda, “Jagalah Allah, niscaya Dia menjagamu; jagalah Allah, niscaya kamu mendapati-Nya bersamamu; jika kamu mempunyai permintaan, mintalah kepada Allah; jika kamu membutuhkan pertolongan, minta tolonglah kepada Allah. Ketahuilah, seandainya seluruh manusia bersatu untuk memberi manfaat dengan sesuatu, mereka tidak akan dapat melakukannya kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan untukmu; dan jika mereka bersatu untuk mencelakakanmu dengan sesuatu, mereka tidak akan dapat melakukannya kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan untukmu. Pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah mengering” (HR At Turmudzi).
3, Mengajarkan untuk menghayati Sifat Allah, bahwa Allah Maha Melihat, Mendengar dan selalu bersama dengan kita. Bersama dalam arti Allah tidak menempati suatu tempat yang dekat kita atau berada di langit atau di arasy. Karena Allah bukan jism (benda) yang memerlukan tempat.
4. Dengan menghayati kesertaan Allah dengan kita. Anak akan suka berbuat baik dan takut berbuat dosa, agar Allah selalu dekat dengannya.

Mengajarkan Kehadiran Malaikat

Mengajarkan iman kepada Malaikat, menjadikan anak tidak takut dan tidak merasa kesendirian, karena ada Malaikat yang selalu mendampingi kita. Ada Malaikat yang menjaga anggota tobuh kita. Ada Malaikat yang mencatat perbuatan baik dan perbuatan buruk. Ada Malaikat yang menyertai kiat yang selalu memberikan dan mengarahkan fikiran dan perasaan yang baik kepada kita.

Menanamkan kecintaan kepada Al Qur’an

  1. Mengajarkan bahwa Al Qur’an adalah Kalam Allah, yang menjadi pedoman hidup manusia.
  2. Ajarkan membaca Al Qur’an dengan Tajwidm, ketika anak sudah mulai dapat berbicara.
  3. Biasakan membaca Al Qur’an, dengan selalu membaca hafalan Qur’an agar menjadi bacaan wirid sehari-hari.
  4. Belajar Memahami dan berusaha mengamalkan Al Qur’an

Menanamkan kecintaan kepada Shahabat sebagai kecintaan kepada Rasulullah shallallahu alaihi wassalam

Mengenalkan para Shahabat Nabi agar menanamkan rasa ta’zhim kepada mereka, sehingga menjadikan mereka tauladan untuk ditiru dalam iman, amal dan perjuangannya. Di mulai dari Khulafaurrasyidin, Muhajirin dan Anshar.

Menceritakan kehidupan setelah kematian

Mengajarkan bahwa hidup ini hanya sementara, dan semua orang akan mati. Manusia akan melalui alam kubur. Adanya hari Kiamat, adanya padang Mahsyar, Hisab, Mizan, Syafaat, Titian Sirat dan akhirnya ada Syurga dan Neraka. Bagi anak-anak, lebih ditekankan pada penggambaran Syurga. Penggambaran neraka diceritakan dengan lebih hati-hati.

Menjelaskan adanya Qadha dan Qadar untuk memotivasi anak-anak dan selalu mempunyai harapan besar akan rahmat Allah

Iman kepada Takdir baik dan buruk mesti diajarkan agar anak-anak tidak mudah putus-asa, dan selalu bersemangat dalam berusaha. Kegagalan / kesalahan /doa yang terlanjur dilihat sebagai pelajaran agar tidak terulang. Jika terlanjur berbuat dosa agar cepat bertaubat dan tidak putus asa untuk dapat menjadi lebih baik.. Keberhasilan tidak menjadikannya lalai dan sombong, tepai menjadikannya orang yang bersyukur.

Amal Soleh adalah Ukuran Iman

Ajarkan anak untuk selalu beramal soleh terutama dengan disertai dengan sholat 5 waktu. Karena amal soleh menguatkan Iman dan sholat lima waktu adalah menjaga diri kita untuk selalu bersemangat dalam beramal soleh dan menjaga kita dari berbuat dosa.
Berbuat dosa melemahkan iman dan hendaknya segera bertaubat jika terlanjur terbuat dosa, agar Allah mengampunkan dosa dan menguatkan iman. Mengajarkan untuk tidak putus asa dan selalu berharap kepada rahmat Allah.

Berhadapan dengan golongan lain dan agama lain

Ajarkan anak agar bersikap hati-hati dari penyimpangan beragama. Tetapi tetap toleran dengan perbedaan dalam beragama dengan tidak mudah menuduh orang Islam sebagai orang kafir.
Anak juga diberi kesadaran akan adanya anak atau orang yang beragama selain Islam, agar mereka dapat hidup dalam perbedaan tetapi tetap memegang teguh agamanya. Ini perkara yang penting terutama jika kita hidup di masyarakat yang minoritas Islam, seperti di Jerman ini.

Disarikan dari Kajian Sebelum Buka Puasa di Musholla Ar-Raudhah Bremen oleh Ustaz Dr Abas Mansur Tamam.

Wallahu a’alam

Kategorien: blog

0 Kommentare

Schreibe einen Kommentar

Deine E-Mail-Adresse wird nicht veröffentlicht. Erforderliche Felder sind mit * markiert.

de_DEGerman