Maha Suci Allah dari sifat jisim (jasmani, benda)

  ٣٠] فهو الجليل والجميل والولي – والطاهر القدوس والرب العلي]

[30] Dialah Tuhan Yang Maha Agung, Maha Indah, Maha Pelindung, Maha Suci, Maha Qudus, Tuhan Yang Maha Tinggi 

٣١] منزه عن الحلول والجهة – والاتصال الانفصال والسفه]

[31] Maha Suci Allah dari bersatu dengan makhluk, mempunyai arah, menyentuh dan berpisah serta bersifat yang tidak layak bagiNya

Allah adalah Dzat yang Maha Agung dengan segala Sifat KesempurnaanNya. Maha Suci Allah dari segala sifat kelemahan. Imam Ad-Dardir menegaskan sekali lagi disini, bahwa Allah bukanlah Dzat yang berjisim. Jisim adalah makhluk benda yang menempati ruang. Ini adalah sifat makhluk. Maha Suci Allah dari disifatkan sebagai jisim. Dikatakan dalam baris 31 di atas tentang 3 keadaan jisim (makhluk) terhadap jisim (makhluk) yang lain (lihat ilustrasi di bawah).

  1. Suatu dzat dapat bersatu atau bercampur yang dengan dzat lain adalah jika 2 dzat itu sama-sama jisim (makhluk). Ini Mustahil bagi Allah, karena Allah adalah Maha Esa yang berbeda dengan makhlukNya. Maha Suci Allah dari bersatu dan bercampur dengan makhlukNya.
  2. Dzat yang berada pada suatu arah (atas, bawah, kiri, kanan, depan dan belakang) dari diri kita adalah dzat yang berjisim yang menempati ruang pada suatu lokasi. Dan ini Mustahil pada Dzat Allah, karena Dzat Allah tidak menempat ruang dan tidak berada di suatu lokasi. Maha Suci Allah berada pada arah tertentu dari makhlukNya
  3. Dzat yang bersentuhan atau terpisah dengan dzat yang lain adalah jika ada dzat lain yang dibandingkan. Ini hanya terjadi pada sesama jisim atau pada sesama makhluk. Maka inipun mustahil pada Dzat Allah, karena Allah bukan jisim. Allah berbeda sama sekali dari makhluk/jisim (benda). Maha Suci Allah dari bersentuhan dan terpisah dengan makhlukNya.
Ilustrasi 3 keadaan/posisi jisim makhluk terhadap jisim (makhluk) lain

Ketika alam ini belum diciptakan, hanya Allah yang Wujud, tanpa ruang tanpa waktu, yang dalam istilah ilmu Tauhid disebut zaman Azali. Ketika makhluk tidak ada tentulah Allah
– tidak bercampur atau bersatu dengan makhlukNya,
– tidak berada di arah tertentu dari makhlukNya,
– tidak menyentuh dan tidak terpisah dari makhlukNya.
Maka ketika alam kemudian diciptakan oleh Allah, keadaan Allah tidak berubah sebagaimana sebelum alam diciptakan. Alam yang diciptakan ini tidak mempengaruhi apapun terhadap Allah.
Perkara ini ditegaskan lagi oleh Imam Ad-Dardir secara terperinci agar kita terbebas dari pemikiran Allah itu berjisim, karena ada sekelompok orang yang berfahaman Allah itu berjisim, maka faham seperti ini disebut faham Mujassimah, yaitu yang meyakini Allah itu punya jisim. Sehingga ketika membaca ayat-ayat Mutasyabihat (yang samar maknanya), yang menyebutkan seolah-olah Allah ada di suatu tempat, mereka memahaminya dengan makna zahir yang bermakna jisim. Seperti mereka katakan Allah berada di atas, atau Allah bersemayam di atas Arasy secara makna zahirnya. Ini adalah pemahaman keliru yang berbahaya.

Dengan memahami bahwa Allah bukan jisim yang menempati ruang, maka jika ada dalam ayat Quran yang secara makna zahirnya bermakna jisim atau menempati ruang atau berada pada arah tertentu makhluk, maka kita tidak memahami dengan makna zahir dari ayat Quran tersebut. Ayat yang seperti ini disebut dengan ayat Mutasyabihat atau ayat yang samar maknanya.

Misalnya jika dikatakan Allah adalah dekat, sebagaimana Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِى عَنِّى فَإِنِّى قَرِيبٌ‌ۖ أُجِيبُ دَعۡوَةَ ٱلدَّاعِ إِذَا دَعَانِ‌ۖ فَلۡيَسۡتَجِيبُواْ لِى وَلۡيُؤۡمِنُواْ بِى لَعَلَّهُمۡ يَرۡشُدُونَ

Artinya: “Dan apabila bamba-bamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 186)

Bukanlah bermakna Dzat Allah itu dekat secara makna zahir, tetapi dapat bermakna Allah Maha Mendengar doa kita. Kita memahami “Allah adalah dekat” secara maknawiyah bukan dengan makna zahir yang syubhat karena mensifatkan Allah dengan berjisim. Selanjutnya Ulama Ahlussunnah wal Jamaah telah memberikan panduan bagaimana kita memahami ayat Mutasyabihat.

Wallahu a’lam


0 Kommentare

Schreibe einen Kommentar

Deine E-Mail-Adresse wird nicht veröffentlicht. Erforderliche Felder sind mit * markiert.

de_DEGerman