Beberapa bulan yang lalu saya membaca bahwa pemegang paspor Indonesia dengan izin tinggal tetap di Jerman (atau negara-negara Schengen lainnya) yang masih berlaku, diperbolehkan untuk mengajukan Tourist Visa on Arrival di Arab Saudi. Setelah mencari-cari informasi di Internet, suami menelepon kedutaan Arab Saudi serta maskapai Saudia. Informasi tentang Visa on Arrival ini (pada penghujung 2022) ternyata memang tidak terlalu banyak. Informasi resmi yang memang hanya secuil saya dapatkan di situs web:

Setelah meyakinkan diri sendiri dengan mencari berbagai info di internet, saya memesan kamar hotel di Madinah dan Makkah sesuai dengan tanggal yang kami inginkan lewat platform Booking.com. Rencana kami adalah secara garis besar adalah sebagai berikut:

  • naik pesawat dari Jerman mendarat di bandara Madinah
  • naik kereta cepat Haramain ke Mekkah
  • umrah di Makkah
  • naik kereta cepat Haramain kembali ke Madinah
  • kembali ke Jerman dari bandara Madinah

Walau tidak tercantum dalam situs web otoritas pariwisata Arab Saudi, saya dan suami menyempatkan diri untuk:

  • mendapatkan vaksin Meningitis (paling lambat 10 hari sebelum terbang ke Arab Saudi dan tidak tercakup dalam asuransi kesehatan) serta
  • mendapatkan Meldebescheinigung terbaru dari Stadtamt setempat.

Setelah mencari-cari jadwal dan harga pesawat yang cocok, kami menjatuhkan pilihan untuk naik Egypt Air dari Düsseldorf dengan transit di Kairo, Mesir.

Proses Check-in

Tiba di bandara Düsseldorf kami langsung menuju check-in segera setelah dibuka. Kira-kira percakapannya terjadi seperti ini:

  • Petugas Egypt Air: Anda butuh visa untuk masuk ke Arab Saudi, mana visanya?
  • Kami: Kami akan menggunakan pilihan Tourist Visa on Arrival yang bisa kami dapatkan di bandara Madinah, karena kami sebagai pemilik izin tinggal tetap di Jerman dapat menggunakan pilihan tersebut, sambil menunjukkan kartu Aufenthaltstitel.
  • Petugas Egypt Air: Tidak bisa, sistem saya menunjukkan Anda butuh visa. Apakah Anda mau menjalankan umrah?
  • Kami: Tourist Visa on Arrival! Dengan nada sedikit dikeraskan.

Sudut mata saya melihat ada seorang yang tampaknya bertindak sebagai supervisor tiba-tiba menelepon ketika kami sedang beradu kata. Dan kemudian bapak supervisor tersebut berbicara dengan petugas check-in kami, yang kemudian bertanya apakah kami:

  • memiliki tiket pulang (return ticket), yang tentu saja kami langsung keluarkan bukti pemesanan tiket pulang-pergi dengan maskapai Egypt Air, dan
  • kartu kredit, saya dan suami langsung mengeluarkan kartu kredit masing-masing. Kartu kredit ini dibutuhkan karena kami harus membayar sejumlah 480 SAR per orang untuk Visa on Arrival nanti di bandara Madinah.

Setelah petugas Egypt Air manggut-manggut, proses check-in langsung berjalan mulus sampai kami mendapatkan boarding pass masing-masing.

Dari pengalaman tersebut, kami menyimpulkan bahwa tidak semua maskapai mengetahui secara jelas tentang Tourist Visa on Arrival yang merupakan program kementerian pariwisata Arab Saudi untuk paspor Indonesia. Mungkin saja kebingungan ini tidak terjadi jika menggunakan maskapai Saudia yang notabene adalah maskapai pemerintah Arab Saudi.

Penerbangan menuju Kairo berjalan tanpa halangan berarti. Walau pesawat yang digunakan sudah menunjukkan usianya, makanan yang dihidangkan cukup bisa masuk ke lidah kami. Sebelum mendarat kami juga mendapatkan snack roti isi daging dalam kantong.

Transit di Kairo

Tiba di Bandara Kairo, kami langsung menuju Transit Counter. Ternyata tiket kami tidak mendapatkan fasilitas hotel gratis untuk transit, walau waktu transit kami lebih dari 6 jam seperti yang tercantum di situs web Egypt Air. Kami diarahkan ke sebuah loket untuk memesan hotel dengan membayar. Petugas loket tersebut meminta pembayaran dalam US Dollar atau Euro secara kontan. Karena alasan transit, paspor kami akan ditahan dan bisa diminta esok paginya sebelum terbang di meja Customer Service Egypt Air. Kami menyetujui dan petugas tersebut membawa paspor kami.

Tidak berapa lama, petugas tersebut kembali dan memberitakan bahwa kami bisa membeli visa masuk ke Mesir senilai 25 USD/orang di loket bank sebelah dan paspor kami tidak perlu ditahan. Kami pun bergegas membeli visa tersebut, di sini kami bisa membayar dengan kartu kredit. Kemudian, oleh petugas loket tersebut, kami diantar ke loket imigrasi. Petugas imigrasi pun menempel visa tersebut ke halaman paspor kami dan memberikan stempel. Setelah itu kami keluar dari bandara diantar oleh petugas Egyptair yang tadi dan menunggu shuttle ke hotel kami.

Paginya, bus shuttle dari hotel mengantarkan kami ke Terminal Seasonal – Bandara Kairo, tempat penerbangan ke Madinah akan dilaksanakan. Penerbangan ke Madinah cukup menyenangkan dan hanya berjalan sekitar 1,5 jam saja. Kami mendarat di Madinah sekitar pukul 9 pagi.

Tiba di Madinah

Keluar dari pintu pesawat, kami bergegas menuju keluar. Kami menemukan tanda ini di dekat imigrasi:

Penunjuk arah loket Visa on Arrival

Kami menuju loket Visa on Arrival. Terdapat 3 petugas yang siap melayani. Tidak terdapat antrean sama sekali ketika kami sampai di konter. Ketiga petugas imigrasi Arab Saudi tersebut tampak sangat paham dengan program Visa on Arrival ini, mereka langsung meminta paspor dan kartu Aufenthaltstitel kami. Beberapa saat kemudian, mereka meminta kami membayar menggunakan kartu kredit. Kemudian kami menerima paspor kami yang telah dicap disertai dengan nomor.

Saya dan putra saya ternyata hanya mendapat satu nomor, yang kemudian baru saya ketahui adalah Border Number. Suami saya mendapatkan dua nomor yaitu Border Number dan Visa Number. Visa Number ini diperlukan untuk mendaftar di aplikasi Nusuk, yang diperlukan untuk memesan slot waktu masuk Umrah dan juga untuk masuk ke area Raudah di Masjid Nabawi.

Border Number dan Visa Number
Border Number dan Visa Number di paspor Suami

Pendaftaran untuk aplikasi Nusuk

Keluar imigrasi, kami mencari tempat duduk di area pengambilan bagasi dan segera mencoba untuk mendaftar ke aplikasi Nusuk dengan Visa Number kami. Suami saya bisa melakukan pendaftaran di aplikasi Nusuk dengan sukses, sedangkan saya, yang walau sudah kembali ke petugas imigrasi yang ada, tidak bisa mendapatkan Visa Number yang bisa digunakan untuk aplikasi Nusuk. Kami bergegas keluar dari area pengambilan bagasi untuk membeli nomor lokal Arab Saudi di konter Zain (penyedia jasa telekomunikasi) di dekat pintu keluar bandara. Kami membeli nomor dengan paket internet dengan volume cukup besar seharga 150 SAR, karena memang sekalian untuk digunakan untuk berkomunikasi dan menggunakan internet selama kami berada di sana. Internet ini diperlukan agar komunikasi berjalan lancar lewat Whatsapp mengingat kami tidak bisa selalu bersama dan area wanita dan pria selalu dipisah.

Setelah memasukkan kartu SIM ke HP, saya langsung mendaftar ke aplikasi Tawakkalna Services dengan menggunakan nomor paspor dan nomor HP Arab Saudi lokal yang kami beli. Setelah menerima SMS OTP lewat nomor lokal, pendaftaran berjalan lancar. Saya bisa memesan jadwal umrah di aplikasi Tawakkalna Services, dan suami saya memesan jadwal umrah di aplikasi Nusuk.

Setelah selesai, kami menuju ke konter taksi resmi di dekat pintu keluar bandara untuk memesan taksi dan kami segera berangkat menuju hotel.

Sampai di hotel, check in berjalan cepat. Petugas check-in juga mempersilakan kami masuk ke dalam kamar hotel walaupun sesungguhnya waktu check-in kami yang masih 2 jam kemudian, alhamdulillah.

Naik Kereta Cepat Haramain dari Madinah menuju Makkah

Setelah tinggal 2 malam di Madinah, kami menuju ke Makkah untuk melaksanakan umrah. Dari hotel kami langsung mengenakan pakaian ihram. Kami berangkat menggunakan taksi yang kami pesan menggunakan aplikasi Uber. Kami memilih Uber XL karena kami membawa 2 koper besar dan kami membayar sekitar 50 SAR (~13€) lewat aplikasi Uber. Sesampai di stasiun kereta Haramain Madinah, kami segera memanggil porter untuk membantu membawa koper kami. Porter memberitahu kami bahwa biaya untuk menggunakan porter dan sewa troli adalah 17 SAR (~4€). Porter membawa kami ke sebuah konter kecil di dekat pintu masuk untuk membayar jasa porter tersebut.

Setelah membayar, porter menanyakan nomor gerbong kami dan beliau berkata bahwa beliau akan menunggu di dalam sementara kami check-in. Bapak porter kemudian menghilang masuk ke dalam stasiun membawa semua koper kami. Kami juga segera mengantre di gerbang check-in, yang berupa sederet gerbang kecil dengan pemindai kode QR yang tertera di tiket kereta Haramain. Kami dipersilakan naik ke lantai atas yang merupakan ruang tunggu penumpang. Beberapa saat sebelum kereta berangkat, petugas stasiun mempersilakan kami untuk turun ke lantai peron di bawah. Kami bergegas menuju nomor gerbong kami dan bapak porter dengan sigap memasukkan koper kami ke tempat koper gerbong, yang mirip dengan tempat koper kereta IC di Jerman. Setelah selesai tidak lupa kami memberikan tip kepada bapak porter dan berterima kasih atas bantuan beliau.

Walau secara resmi di situs web kereta cepat Haramain mencantumkan bahwa 1 penumpang hanya berhak membawa 1 koper kabin saja (ukuran kecil), nyatanya tidak ada yang melarang kami dan porter untuk membawa koper besar.

Tempat meletakkan koper di kereta cepat Haramain

Di Makkah

Di Makkah kami dijemput oleh pemandu umrah yang sudah kami kontak sebelum berangkat ke Arab Saudi. Beliau menjemput kami untuk menuju hotel menggunakan taksi. Hotel yang kami tuju adalah hotel Le Meridien Tower yang terletak di selatan Masjidil Haram. Walau hotel ini tidak terletak di sekitar Masjidil Haram, pihak hotel menyediakan bus shuttle setiap 10 menit yang membawa kami ke terminal bis di sisi selatan Clock Tower. Dari terminal bus ini kami berjalan sekitar 300m melewati terowongan di bawah Clock Tower hingga sampai di pintu Masjidil Haram.

Secara resmi, setiap pengunjung yang ingin masuk ke dalam Masjidil Haram harus memesan jadwal masuk di aplikasi Nusuk/Tawakalna Service. Tetapi beberapa kali kami masuk ke dalam Masjid, aplikasi kami tidak pernah sekali pun diperiksa. Yang kami perhatikan adalah orang yang tidak memakai pakaian ihram akan ditolak untuk masuk Masjid. Jadi kami selalu menggunakan pakaian ihram untuk masuk ke Masjid, baik untuk melaksanakan Umrah maupun hanya untuk melaksanakan ibadah sholat biasa. Kondisi Masjidil Haram sangat ramai sekali, jadi kami membawa tas ransel kecil untuk memasukkan sandal kami ke dalamnya.

Alhamdulillah ibadah Umrah berjalan lancar, dan sebelum pulang ke hotel, kami mampir ke kedai makanan di pasar di bawah Clock Tower untuk makan bersama pemandu kami.

Pulang dari Bandara Madinah

Setelah dua malam di Makkah kami kembali ke Madinah menggunakan kereta cepat Haramain kembali. Sebelumnya kami juga dibantu seorang teman untuk mendapatkan 4 botol air Zamzam. Namun ketika turun dari taksi yang membawa kami dari stasiun Haramain ke bandara Madinah, kami diberi tahu sopir taksi tersebut bahwa kami dilarang untuk memasukkan air Zamzam ke dalam koper bagasi check.-in. Ketika turun dari taksi, beliau menunjukkan arah konter untuk membeli air Zamzam yang resmi yang bisa dibawa pulang sebagai bagasi. Pada akhirnya kami memutuskan untuk memberikan air Zamzam yang kami dapatkan sebelumnya kepada beberapa tenaga pembersih bandara dan membeli 3 pak air Zamzam untuk kami bertiga.

Pada waktu check-in, petugas check-in juga akan melabeli air Zamzam dengan tag bagasi check-in seperti yang ditempelkan pada koper. Beliau memberi tahu bahwa kotak air Zamzam ini harus kami bawa sendiri ke konter distribusi air Zamzam di samping pintu masuk ke arah imigrasi. Setelah proses check-in selesai kami membawa air Zamzam kami ke konter yang dimaksud. Tak lupa, sebelum memberikan ke konter tersebut, kami memberi nama pada karton pembungkus air Zamzam tersebut. Kemudian kami masuk menuju antrean imigrasi.

Di bandara Frankfurt kotak air Zamzam ini harus diambil di loket Sperrgepäck/Bulk (tempat mengambil bagasi Kinderwagen, atau yang ekstra besar) yang ada di ruangan yang sama dengan konveyor bagasi. Di dekat loket ini, kami juga melihat beberapa kotak air Zamzam milik penumpang lain dan kami mengambil ketiga kotak milik kami. pemberian nama pada kotak Zamzam mempermudah pengambilan, sehingga kami tidak perlu susah-susah mencocokkan nomor bagasi kami.

Alhamdulillah, perjalanan umrah kami berjalan lancar, semoga informasi yang kami dapatkan dan kami bagikan ini dapat berguna bagi saudara-saudara yang ingin menunaikan ibadah umrah mandiri menggunakan Tourist Visa on Arrival.


0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

id_IDIndonesian