Lanjutan Fasal 3

Lanjutan Fasal 3 Maulid Simthuddurror

Nabi Muhammad shallallahu alaihi wassalam adalah cahaya yang menerangi kegelapan

Makna jahiliyah

Rasulullah shallallahu alaihi wassalam hadir di Mekkah di tengah-tengah masyarakat yang berada dalam kegelapan jahiliyah. Jahiliyah artinya bodoh. Namun bodoh di sini bukan berarti bodoh dalam intelektual. Mereka disebut jahiliyah karena bodoh dalam mengenal Allah Tuhan Yang Maha Pencipta.
Bahkan masyarakat Mekkah ketika itu dikenal cerdas. Mereka banyak yang menjadi pedagang dan pengusaha ulung, sebagiannya adalah penyair yang hebat, sebagiannya pandai membangun bangunan yang kokoh.
Amar bin Hisyam adalah salah satu pemimpin Mekkah yang mendapat gelar Abul Hakam karena kepandaiannya. Dialah yang juga dikenal sebagai Abu Jahal. Rasulullah shallallahu alaihi wassalam pernah berdoa kepada Allah agar memberikan hidayah Islam kepada dua orang bernama Umar (Amar), yaitu Umar bin Khattab atau Amar bin Hisyam, yang kemudian Allah kabulkan untuk Umar bin Khattab.

Rencana menyingkirkan Nabi Muhammad

Para pemimpin kafir Quraisy berdiskusi di Darun Nadwah tentang apa yang mereka lalukan untuk menghadapai Nabi. Di antara mereka ada Iblis yang menyerupakan dirinya sebagai seorang kakek yang mengaku datang dari Najd. Dia berkata agar mereka mengumpulkan semua ide-ide terbaik untuk menyingkirkan Nabi. Ada yang mengusulkan untuk dibiarkan saja di Mekkah, namun dibantah oleh “kakek” itu karena dianggapnya Nabi dapat mengumpulkan kekuatan dari luar dan akan datang lagi ke Makkah. Ada yang mengusulkan agar Nabi Muhammad ditahan saja agar tidak mempengaruhi masyarakat Mekkah. Iblis yang menyerupai kakek mengatakan usul ini tidak bisa diterima, karena akan mengundang kemarahan kabilah keluarga besar Bani Abdul Muthalib dan Bani Hasyim dari mana Nabi berasal.
Kemudian Abu Jahal mempunyai ide yang lebih “cemerlang” diterima yaitu agar mengumpulkan para pemimpin pemuda dari seluruh kabilah untuk membunuh Nabi, sehingga tidak ada kabilah yang membalas. Orang tua tadi mengatakan ini baru ide bagus, lakukanlah.
Begitulah cerdiknya Abu Jahal (Amar bin Hisyam) yang mempunyai ide yang iblispun tidak memikirkan.
Namun seperti kita ketahui dengan bantuan Allah, Nabi berhasil selamat dan hijrah ke Madinah.

Cahaya Rasulullah

Rasulullah adalah cahaya yang menerangi kegelapan jahiliyah masyarakatnya, sehingga mengubah hati dan akhlak manusia dari akhlak yang buruk menjadi akhlakul karimah. Jadi akhlak manusia itu, bagaimanapun buruknya dapat berubah dengan berkah mu’jizat cahaya yang ada pada diri Rasulullah shallallahu alaihi wassalam. Ini disebut dalam QS Al Ahzab:45

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّبِىُّ إِنَّآ أَرْسَلْنَٰكَ شَٰهِدًا وَمُبَشِّرًا وَنَذِيرًا

Hai Nabi, sesungguhnya Kami mengutusmu untuk jadi saksi, dan pembawa kabar gemgira dan pemberi peringatan

Contoh Sayidina Umar bin Khattab yang ketika belum Islam adalah seorang yang kasar yang menakutkan. Beliau dikenal sebagai orang yang mudah memukul orang, sehingga orang takut kepadanya. Namun setelah beliau masuk Islam, beliau menjadi orang yang berkasih sayang kepada orang Islam namun tetap tegas sehinga disegani oleh lawan dan kawan. Inilah yang disebut dengan dengan cahaya maknawiyah Rasulullah yang menerangi kegelapan sehingga membuat hati menjadi terang dan mudah menerima kebenaran.
Sayidina Bilal adalah budak yang lemah, namun dengan cahaya Rasulullah yang menerangi hatinya telah membuatnya menjadi orang yang kuat lahir dan bathinnya, sehingga beliau tahan menerima siksaan yang berat dari tuannya Umayyah, sampai belliau dibebaskan dengan dibeli oleh Sayidina Abu Bakar Shiddiq radhiallahu anhu.

Cahaya Rasulullah shallallahu alaihi wassalam selain maknawiyah juga bermakna lahiriah. Ini diriwayatkan oleh para Shahabat yang melihatnya. Para Shahabat jika ditanya tentang diri Rasulullah, mereka menjawab bahwa Rasulullah itu seperti matahari yang menyinari. Ada yang mengatakan Rasulullahu seperti cahaya bulan purnama.

Mengapa ada orang yang melihat Nabi tetapi tidak mendapatkan cahaya Nabi?

Tidak semua yang pernah melihat Rasulullah tidak semua menerima cahaya Nabi. Mengapa?
Cahaya Rasulullah akan menembus ke hati manusia yang memang mencari kebenaran dan mereka yang hatinya terbuka terhadap kebenaran. Diumpamakan ada orang yang mencari video yang menjadi kesukaannya di Youtube, maka dia pasti akan berusaha untuk mencarinya sampai menemukannya. Orang yang hatinya terbuka juga akan mudah menerima kebenaran yang diperlihatkan kepadanya.
Orang yang tidak mau dengan cahaya kebenaran dan hatinya tertutup dari kebenaran adalah hakikatnya karena dirinya sendiri yang menutupnya, sehingga hatinya tidak akan dapat menerima kebenaran, walaunpun cahaya itu ada dihadapannya, bahkan berkali-kali melintas didepannya.

Orang yang mencintai Nabi akan suka dan mencari apa-apa yang datang dari Nabi untuk lebih mengenali Nabi.

Kita sebagai Umat Nabi Muhammad, hendaknya terus berusaha mencari ilmu yanh berkenaan dengan Nabi, agar kita bertambah kenal dengan bertambah cinta kepada Nabi.
Di zaman sekarang ini banyak sarana untuk menambah pengetahuan tentang Nabi, dengan mencari guru yang dapat mengenalkan Nabi kepada kita. Kalau kita tidak dapat bertemu langsung dengannya kita kita dapat mencari orang yang pernah belajar dari guru itu, atau kita dapat mendengar kajiannya melalui sosial media. Semua begitu terbuka untuk kita, tinggal bagaimana kita memanfaat kemudahan yang telah Allah sediakan untuk kita itu.

Mendapat izin untuk berdakwah

Dalam berdakwah Rasulullah shallallahu alaihi wassalam mendapat wahyu untuk bedakwah secara terbuka kepada kaum Quraisy.
Seorang pendakwah dapat juga mendapatkan suatu isyarat dari Allah yang menunjukkan dia mendapatkan ijazah dalam berdakwah. Namun bagi kita yang idak mendapat isyarat mendapat ijazah untuk berdakwah, bukan berarti kita tidak boleh berdakwah. Karena kalau kita mendapat isyarat itu, mungkin jiwa kita tidak kuat dan menjadi ujub, karena mendapat ijazah itu.
Maka sebaiknya kita tetap melakukan dakwah sejauh yang kita mampu, tanpa menunggu dapat ijazah, sambil kita terus belajar menuntut ilmu agama. Melakukan dakwah tidak mesti kita menyampaikan sendiri berdakwah seperti ustad, tetapi dengan cara yang kita mampu, seperti membuat dan membantu berkhidmat pada pengajian dengan mendatangkan Ustad atau ulama.

Wallahu a’lam


0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

id_IDIndonesian