Makna Al-Haqq (الْحَقُّ)

Al Haqq artinya Maha Benar. Lawan dari bathil. Kadang-kadang kita menjelaskan suatu makna dengan menyebut lawan katanya. Maha Benar pada Al Haqq adalah Kebenaran yang mutlak. Kebenaran yang ada dan jelas bukti kebenarannya dan berlaku selama-lamanya. Haqq juga dapat diartikan dengan makna terbukti atau nyata (real). Ini adalah penjelasan dari Muhammad Iqbal, seorang pemikir Islam dan filosof dari Ahlussunnah wal Jamaah dari Pakistan.
Imam Ghazali membagi kabar (yang sampai kepada kita) dilihat dari kebenarannya menjadi 3:
1. Kabar dengan kebenaran yang relativ, ianya tidak mutlak dan dan tidak selamanya, kadang benar kadang tidak. Inilah kebenaran yang ada pada makhluk. Makhluk mungkin ada dan mungkin juga tidak ada.
2. Kabar yang mustahil benar, kabar yang bathil mutlak. Ini adalah lawan dari Kebenaran yang mutlak. Contoh adanya tuhan selain Allah adalah bathil secara mutlak. Ini adalah kabar yang mustahil benar.
3. Kebenaran yang mutlak, yaitu Kebenaran yang berlaku selama-lamanya. Inilah Kebenaran yang hanya dari Allah.
Dalam QS Al Baqarah 147 Allah berfirman:

الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ فَلاَ تَكُونَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِيْنَ

“Kebenaran itu datang dari Rabb mu, maka janganlah sekali-kali kamu termasuk orang yang ragu.”

Jadi kita sebagai makhluk tidak boleh merasa benar secara mutlak. Akhir-akhir ini ada golongan atau pemuka agama yang merasa dirinya yang mempunyai kebenaran mutlak sehingga sering menyalahkan orang dan golongan lain. Wujud kita saja bukanlah ada secara mutlak, tetapi wujud karena diwujudkan oleh Allah.
Islam adalah Haqq (Kebenaran) dari Allah, tetapi bagaimana kita memahami Islam itu, tidaklah mutlak benar, karena pemahaman kita dapat saja keliru, hanya Kebenaran dari Allah yang mutlak dan selama-lamanya benar.

Allah berfirman dalam

وَلَا تَدْعُ مَعَ ٱللَّهِ إِلَٰهًا ءَاخَرَ ۘ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۚ كُلُّ شَىْءٍ هَالِكٌ إِلَّا وَجْهَهُۥ ۚ لَهُ ٱلْحُكْمُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

Janganlah kamu sembah di samping (menyembah) Allah, tuhan apapun yang lain. Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali WajahNya (Allah). Bagi-Nya-lah segala penentuan, dan hanya kepada-Nya-lah kamu dikembalikan.

Makna WajahNya disini di bagi 2 oleh Ulama kita yaitu

  1. Wajah Uluhiyah, yaitu Keesaan pada DzatNya
  2. Wajah Rububiyah, yaitu Keesaan pada Sifat Penciptaan dan Pemeliharaan terhadap makhlukNya, seluruh makhluk adalah dicipta´kan dan dipelihara oleh Allah.

Wujudnya makhluk adalah mungkin adanya. Makhluk ada karena Allah yang menciptakannya dan memeliharanya. Makhluk tidak wujud atau kemudian hancur, jika Allah Menghendakinya. Semua kewujudan makhluk adalah bergantung kepada Allah semata.

Imam Ghazali kemudian menjelaskan makna haqq (benar) dikaitkan dengan sesuatu yang dapat diterima oleh akal. Jika akal kita dapat menangkap wujudnya sesuatu maka akal kita telah mengetahui kebenaran tentang adanya wujud itu disebut haqq. Karena makhluk itu wujudnya tidak kekal, mungkin ada dan mungkin tidak maka maka haqq yang ada pada makhluk adalah tidak mutlak. Kita hanya mengenal haqq yang sebenar-benarnya hanyalah Al Haqq yaitu Allah, Dzat yang WujudNya mutlak benar dan selama-lamanya ada. Maka ilmu (pengetahuan) yang paling benar hanyalah Ilmu Allah.

Maka kalimat yang paling benar adalah “Laa ilaaha Illallah”, karena kalimat ini sejak dahulu sudah ada dan selalu benar. Dan Dzat yang mengetahui kalimat ini dari azali lagi adalah hanya Allah.

Haqq juga dapat dikaitkan dengan pribadi manusia dan atau suatu obyek. atau yang terbayangkan dalam fikiran. Yang sering kita sebut dengan ilmu atau pengetahuan. Atau yang wujud pada lisan, yaitu logika. Maksudnya dapat dijelaskan melalui lisan (bahasa) dengan logis masuk akal.
Yang paling haqq, yaitu yang Wujudnya abadi dan azali adalah Allah.

Hamba Allah yang mendapat cahaya Al Haqq, adalah hamba yang sadar bahwa dirinya adalah bathil (tidak ada), hanya Allah yang menjadikannya haqq (ada). Alam semua ini juga adalah ciptaan Allah. Maka hamba Allah itupun sadar akan tidak kekalnya alam ini, atau bahwa wujud alam ini adalah karena Allah yang mewujudkannya.

Maka dirinya tidak memandang yang lain selain Allah. Dirinya merasa tidak ada, dan hanya Allah yang ada. Inilah rasa hamba Allah yang mengenal Asma Allah Al Haqq.

Ahli Tasawwuf memandang dirinya itu fana (tidak kekal, akan hancur). Maka mereka hanyalah sibuk dan memperhatikan Dzat yang Haqq, Yang Wujud, sedang dirinya mereka rasakan tidak ada. Jadi mereka merasakan yang berbuat kebaikan mereka, yang mencegah mereka dari keburukan adalah Allah, bukan dirinya yang melakukannya.

Kebanyakan manusia masih melihat selain Allah yang memberikan bekas pada sesuatu. Sedang para Shiddiqun tidak melihat lagi selain Allah. Yang mereka lihat adalah Allah. Mereka membuktikan adanya Allah dengan Allah itu sendiri. Allah berfirman :

Surat Fussilat Ayat 53

سَنُرِيهِمْ ءَايَٰتِنَا فِى ٱلْءَافَاقِ وَفِىٓ أَنفُسِهِمْ حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُ ٱلْحَقُّ ۗ أَوَلَمْ يَكْفِ بِرَبِّكَ أَنَّهُۥ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ شَهِيدٌ

Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al Quran itu adalah benar. Tiadakah cukup bahwa sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?

Maka mereka telah musyahadah (menyaksikan) Allah, sebagaimana makna Ihsan pada kalimat awal yang disebut dalam hadits, yaitu beribadah dengan seolah-olah engkau melihat Allah. Bukan makna kalimat keduanya, yaitu jika engkau tidak melihatNya, maka yakinlah bahwa Allah melihat engkau.

Wallahu a’lam


0 Kommentare

Schreibe einen Kommentar

Deine E-Mail-Adresse wird nicht veröffentlicht. Erforderliche Felder sind mit * markiert.

de_DEGerman