Asal usul keturunan Imam Abul Hasan al-Asy’ari.

Beliau adalah Ali bin Ismail bin Ishaq bin Salim bin Ismail bin Abdullah bin Musa bin Bilal bin Abu burdah bin Abu Musa al-Asy’ari (sahabat Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam). Nama sebenar Abu Musa Al Asy´ari ialah Abdullah bin Qais dari anak al-Jamahir bin Al-Asy’ar bin Adad. Dari nama kakeknya al-Asy’ar inilah gelaran al-Asy’ari diperoleh.

Sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wassalam yang mulia Abu Musa al-Asy’ari radhiallahu anhu beristrikan Ummu Kultsum binti al-Fadhl bin Abbas bin Abdul Muththalib. Maka Ummu Kultsum adalah nenek kepada imam Abul Hasan[1]. Jadi Imam Abul Hasan Al Asy´ari masih termasuk keluarga dengan Rasulullah shallallahu alaihi wassalam.

Imam Abul Hasan al-Asy’ari menjadi Ulama berfahaman Muktazilah.

Beliau lahir pada tahun 260 Hijriyah di Basra, jadi masih dalam 3 kurun terbaik yang disebut oleh Rasulullah shallallahu alaihi wassalam atau zaman salafu sholih. Ayah beliau wafat ketika beliau masih kecil. Kemudian ibunya menikah lagi dengan Abu Ali Al Jubba´i yaitu seorang Ulama yang berfahaman Muktazilah. Dari ayah tirinya inilah Imam Abul Hasan Aĺ Asy´ari mempelajari dan berpegang pada Aqidah Muktazilah. Dalam hal fiqih beliau mengikuti Mazhab Imam Syafei. Ada juga yang mengatakan beliau bermazhab Maliki.

Beliau adalah orang yang cerdas, sehingga beliau menjadi alim dan dikenal pula sebagai seorang Ulama Hadits (Muhaditsin). Beliaupun dikenal pula sebagai ulama pembela Aqidah Muktazilah. Aqidah Muktazilah ketika itu telah menyebar luas bahkan sudah dianut oleh kalangan pemerintahan Islam di kala itu.

Imam Abul Hasan al-Asy’ari kembali kepada Aqidah Ahlussunnah Wal Jama´ah

Ketika beliau berumur 4o tahun, beliau merasakan tidak puas atas ajaran Aqidah Muktazilah yang terlalu mendahulukan akal dan meninggalkan Qura´an dan Sunnah. Beliau kemudian tidak keluar rumah selama lima belas hari. Beliau merenung dan meneliti serta memohon petunjuk kepada Allah Subhanahu wa ta´ala. Pada suatu hari beliau bermimpi bertemu bertemu Nabi shallallahu alaihi wassalam. Saat itulah beliau mengadukan kepada Rasulullah  shallallahu alaihi wassalam tentang permasalahan yang sedang dihadapi. Rasulullah shallallahu alaihi wassalam pun menyatakan,’Wajib bagimu untuk berpegang teguh dengan sunnahku.’ Saat itulah beliau terbangun dari tidurnya.

Dikisahkan pula oleh Ibnu Asakir rahimahullah bahwa Kemudian pada hari Jum’at setelahnya, dia keluar ke Masjid Jami’ dan menaiki mimbar menegaskan di hadapan para hadirin, “Wahai sekalian manusia, aku menghilang dari tengah-tengah kalian selama beberapa waktu, karena aku menjumpai beberapa dalil dan belum bisa membedakan antara yang benar dan yang batil. Kemudian aku memohon petunjuk kepada Allah ‘azza wa jalla.  Allah pun memberikan petunjuk-Nya supaya aku berlepas diri dari buku-buku yang pernah kutulis. Dengan ini saya tinggalkan semua akidah yang aku yakini, sebagaimana aku menanggalkan bajuku ini.” Sambil beliau menanggalkan bajunya.

Sejak saat itu, beliau mulai merilis berbagai karya tulis yang membantah pemikiran-pemikiran Mu’tazilah. Beliau juga sangat antusias dalam menjelaskan kesesatan Mu’tazilah dalam berbagai forum. Di antara pemikiran Mu’tazilah yang beliau tegaskan kesesatannya di hadapan umum adalah bahwa Al-Qur’an itu makhluk bukan Kalamullah, Allah ‘azza wa jalla tidak bisa dilihat dengan pandangan mata di akhirat kelak, dan kesesatan keyakinan Mu’tazilah lainnya.

Dalam riwayat lain, salah satu faktor pendorong taubatnya Abul Hasan adalah karena gurunya dan ayah tirinya Abu Ali Al Jubba´i tidak mampu menjawab beberapa pertanyaan yang beliau disodorkan.

Suatu ketika al-Asy’ari berdialog dengan al-Jubba’i sebagai berikut,

Al-Asy’ari, “Bagaimana pendapatmu tentang nasib tiga orang yang meninggal dunia, satunya orang mukmin, satunya orang kafir dan yang satunya lagi anak kecil?”

Al-Jubba’i, “Orang mukmin akan memperoleh derajat yang tinggi, orang kafir akan celaka dan anak kecil akan selamat.”

Al-Asy’ari, “Mungkinkah anak kecil tersebut meminta derajat yang tinggi kepada Allah?”

Al-Jubba’i, “Oh, tidak mungkin, karena Allah akan berkata kepada anak itu, “Orang mukmin itu memperoleh derajat yang tinggi karena amalnya, sedangkan kamu belum sempat beramal. Jadi kamu tidak bisa memperoleh derajat itu.”

Al-Asy’ari, “Bagaimana kalau anak kecil itu menggugat kepada Allah dengan berkata, “Tuhan, demikian itu bukan salahku. Andaikan Engkau memberiku umur panjang, tentu aku akan beramal seperti orang mukmin itu.”

Al-Jubba’i, “Oh, tidak bisa, Allah akan menjawab, “Oh, bukan begitu, justru Aku telah mengetahui, bahwa apabila kamu diberikan umur panjang, maka kamu akan durhaka, sehingga nantinya kamu akan disiksa. Oleh karena itu, demi menjaga masa depanmu, aku matikan kamu sewaktu masih kecil, sebelum kamu menginjak usia taklif.”

Al-Asy’ari, “Bagaimana seandainya orang kafir itu menggugat kepada Allah dengan berkata, “Tuhan, Engkau telah mengetahui masa depan anak kecil itu dan juga masa depanku. Tetapi mengapa Engkau tidak memperhatikan masa depanku, dengan mematikan aku sewaktu masih kecil dulu, sehingga aku tergolong orang yang selamat seperti anak kecil itu, dan mengapa Engkau biarkan aku hidup hingga dewasa sehingga aku menjadi orang kafir dan akhirnya aku disiksa seperti sekarang ini?”
Mendengar pertanyaan al-Asy’ari ini, al-Jubba’i menghadapi jalan buntu dan tidak mampu memberikan jawaban. Al-Jubba’i hanya berkata: “Kamu hanya bermaksud merusak keyakinan yang telah ada.”

Al-Asy’ari, “Aku tidak bermaksud merusak keyakinan yang selama ini Anda yakini. Akan tetapi, Guru tidak mampu menjawab pertanyaanku.”

Kemudian beliau berjuang mempertahankan Aqidah Ahlussunnah Wal Jama´ah di forum-forum. Karena dalil Naqli dan Aqli yang kokoh dari ilmu Aqidah Ahlussunnah Wal Jama´ah yang disusunnya, para ulama dan umat Islam pada umumnya bertambah keyakinan terhadap Aqidah Ahlussunnah Wal Jama´ah. Banyak yang kembali sadar dan menjadi murid Imam Abul Hasan Al Asy´ari serta membantu perjuangan beliau di Iraq. Beliau wafat di Bagdad pada tahun 324 H.

Di Samarkand ada pula seorang Imam yang memperjuangkan Aqidah Ahlussunah wal Jama´ah. Beliau adalah Imam Abu Mansur Al Maturidi yang lahir sekitar tahun 238. Beliau juga menyusun ilmu Aqidah Ahlusunnah Wal Jama´ah. Dalam hal fiqih beliau mengikuti Mazhab Imam Abu Hanifah (Mazhab Hanafi). Imam Abul Hasan Al Asy´ari dan Imam Abu Mansur Al Maturidi tidak pernah bertemu muka. Namun karena sumber kebenaran adalah sama maka ilmu Aqidah Ahlusunnah Wal Jama´ah antara kedua Imam itu pada pokoknya adalah sama. Ada perbedaan kecil yang bersifat furu´ (cabang). Beliau wafat pada tahun 333 H dan dimakamkan di Samarkand.

Mayoritas pengikut Mazhab Hanafi mempelajari ilmu Aqidah Ahlusunnah Wal Jama´ah dari susunan Imam Abu Mansur Al Maturidi, sedang mayoritas pengikut Mazhab Maliki dan Syafei mempelajadi ilmu Aqidah Ahlusunnah Wal Jama´ah susunan Imam Abul Hasan Al Asy´ari. Ajaran Aqidah Ahlusunnah Wal Jama´ah sering juga disebut Aqidah Ahlusunnah Wal Jama´ah Asy´ariyyah/Maturidiyyah.

Keutamaan Abu Musa al-Asy’ari dan para pengikutnya.

Dalam sebuah ayat yang mana pada saat ayat ini turun, Rasulullah memberikan isyaratnya kepada seorang sahabat yaitu Imam Abu Musa al-Asy’ari (Kakek dari Imam Abu Hasan al-Asy’ari) seraya menunjuk kepadanya.

Allah berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ مَن يَرْتَدَّ مِنكُمْ عَن دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللّهِ وَلاَ يَخَافُونَ لَوْمَةَ لآئِمٍ ذَلِكَ فَضْلُ اللّهِ يُؤْتِيهِ مَن يَشَاءُ وَاللّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ
“Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa diantara kamu yang murtad dari agamanya maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang-orang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, yang tidak takut terhadap celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui ” (QS. al-Maidah : 54)

Rasulullah SAW yang bertugas sebagai mubayyin (penjelas) al-Qur’an telah memberikan penjelasan bahwa yang dimaksud dengan ” kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintaiNya..“, dalam ayat di atas adalah kaum Abu Musa al-Asy’ari berdasarkan hadits shahih berikut :

عن عياض الاشعري قال : لما نزلت : {فسوف يأتي الله بقوم يحبهم ويحبونه} قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (هم قومك يا أبا موسى) وأومأ رسول الله صلى الله عليه وسلم : هم قوم هذا , و أشار إلي أبي موسى الأشعري.
Dari Iyadh al-Asy’ari Radiyallahuanhu dia berkata “Ketika ayat, “Allah SWT akan mendatangkan satu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya“, maka Rasulullah SAW bersabda : ” Mereka adalah kaummu wahai Abu Musa “. Dan Nabi mengisyaratkan “ Mereka adalah kaum ini “ dan Nabi mengisyaratkan kepada Abu Musa al-Asy’ari ”

Al-Qusyairi berkata :

فأتباع أبى الحسن الأشعرى من قومه لأن كل موضع أضيف فيه قوم إلى نبي أريد به الأتباع
“ Maka pengikut Abul Hasan al-Asy’ari termasuk kaumnya, karena setiap tempat yang dinisbatkan suatu kaum di dalamnya kepada seorang Nabi (dalam al-Quran), maka yang dimaksud adalah para pengikutnya “[2]

Al-Baihaqi mengatakan :

وذلك لما وجد فيه من الفضيلة الجليلة والمرتبة الشريفة للإمام أبى الحسن الأشعرى رضى الله عنه فهو من قوم أبى موسى وأولاده الذين أوتوا العلم ورزقوا الفهم مخصوصاً من بينهم بتقوية السنة وقمع البدعة بإظهار الحجة ورد الشبهة
“Demikian itu karena ditemukan keutamaan yang jelas dan kedudukan yang mulia kepada imam Abul Hasan al-Asy’ari radhiallahu ‘anhu. Ia termasuk kaum dari Abu Musa dan keturunannya yang diberikan ilmu dan dianugerahi kepahaman khusus dibandingkan mereka dengan menjaga sunnah dan memerangi bid’ah dengan menampakkan hujjah dan membantah syubhat “[3]

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu ia berkata, Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

الايمان يمان والحكمة يمانية أتاكم اهل اليمن هم ارق أفئدة والين قلوبا
“Keimanan yang sebenarnya ialah iman penduduk Yaman dan hikmah sebenarnya ialah hikmah penduduk Yaman. Datang kepada kalian penduduk Yaman, mereka adalah orang-orang yang lembut dan terlebih halus hatinya “(HR. Bukhari & Muslim)

Dari Abu Musa al-Asy’ari, Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

ان الاشعريين اذا ارملوا في الغزو او قل طعام عيالهم بالمدينة جمعوا ماكان عندهم في ثوب واحد ثم اقتسموه بينهم في اناء واحد بالسوية فهم مني وانا منهم
“Sesungguhnya kaum al-As’ari apabila menjadi janda dari sebab peperangan atau kurang makanan keluarga mereka dalam Madinah, maka mereka kumpulkan apa yang ada di sisi mereka dalam sebuah kain. Kemudian dibahagikan kepada kalangan mereka dalam satu bejana dengan sama rata, maka mereka dari aku dan aku dari kalangan mereka “ (HR. Bukhari & Muslim)

Kesaksian Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam bahwa Allah mencintai Abu Musa al-Asy’ari dan para pengikutnya, menjelaskan kepada kita bahwa pengikut madzhab al-Asy’ari adalah kaum yang dicintai Allah dan mereka mencintai-Nya. Karena Abul Hasan al-Asy’ari dan pengikut madzhabnya termasuk kaum atau pengikut Abu Musa al-Asy’ari yang juga merupakan datuk dari Abul Hasan al-Asy’ari.

Sanad ilmu Akidah dan Hadits Abul Hasan al-Asy’ari.

Di antara ulama besar yang menjadi guru imam Abul Hasan al-Asy’ari dalam bidang akidah dan hadits adalah :

1. al-Imam al-Hafidz Zakariya bin Yahya as-Saji (220-307 H)
2. al-Imam Abu Khalifah al-Jumahi (206-305 H)
3. Abdurrahman bin Kholaf ah-Dhabbi (w 279 H)
4. Imam Abdullah bin Said bin Kullab
5. Sahal bin Nuh al-Bashri
6. Muhammad bin Ya’qub al-Maqburi.

Al-Hafidz adz-Dzahabi mengatakan :

أَخَذَ عَنْهُ أَبُو الحَسَنِ الأَشْعَرِيّ مَقَالَة السَّلَف فِي الصِّفَات، وَاعتمد عَلَيْهَا أَبُو الحَسَنِ فِي عِدَّة تآلِيف
“Abul Hasan al-Asy’ari mengambil pembahasan salaf tentang sifat dari as-Saji, dan Abul Hasan bersandar atasnya di beberapa karya tulisnya “[4]

Imam as-Subki mengatakan :

قد رَأَيْت رِوَايَة الشَّيْخ هُنَا عَن زَكَرِيَّا الساجى وروى أَيْضا عَن أَبى خَليفَة الجمحى وَسَهل بن نوح وَمُحَمّد بن يَعْقُوب المقبرى وَعبد الرَّحْمَن بن خلف الضبى الْبَصرِيين وَأكْثر عَنْهُم فى تَفْسِيره
“Aku telah melihat riwayat syaikh Abul Hasan al-Asy’ari di sini dari Zakariyya as-Saji. Beliau juga meriwayatkan dari Abu Khalifah al-Jumahi, Sahal bin Nuh, Muhammad bin Ya’qub al-Maqburi dan Abdurrahman bin Kholaf ad-Dabbi al-Bashri. Dan banyak mengambil tafisrnya dari mereka “[5]

Al-Imam Ibnu Qadhi Syuhbah mengatakan :

زَكَرِيَّا بن يحيى بن عبد الرَّحْمَن بن بَحر بن عدي بن عبد الرَّحْمَن أَبُو يحيى السَّاجِي الْبَصْرِيّ الْحَافِظ أحد الْأَئِمَّة الثِّقَات أَخذ عَن الْمُزنِيّ وَالربيع أَخذ عَنهُ الشَّيْخ أَبُو الْحسن الْأَشْعَرِيّ مَذْهَب أهل السّنة
“Zakariyya bin Yahya bin Abdurrahman bin Bahr bin Adi bin Abdurrahman Abu Yahya as-Saji al-Bashri, seorang Hafidz dan salah satu dari para imam yang tsiqat. Mengambil ilmu dari al-Muzanni dan ar-Rabi’. Dan Abul Hasan al-Asy’ari mengambil ilmu dari ar-Rabi’ sebagai madzhab Ahlus sunnah “[6]

Sanad guru Imam Abul Hasan Al Asy´ari

Sanad Fiqih beliau mengambil dari imam Abi Ishaq al-Marwazi asy-Syafi’i ( w 340 H) yang mengambil dari imam Abul Abbas bin Suraij (249-306 H) yang mengambil dari imam asy-Syafi’i.

Sanad keilmuan beliau juga mengambil dari para ulama shufi :
1. imam Junaid al-Baghdadi
2. Abu Utsman al-Hairi
3. An-Namuri
4. Ibnu Masruq
5. Abul Fawaris Syah al-Karamani,
Dan selain mereka.

Semua guru imam Abul Hasan al-Asy’ari di atas, sanadnya bersambung hingga ke Rasulullah shallahu ‘alahi wa sallam. Jika saya tulis semua biografi masing-masing gurunya, maka akan sangat panjang dijabarkan di sini. Saya akan mengambil satu contoh saja, yaitu dari al-imam al-Hafidz Zakariya as-Saji (220-307 H). Beliau imam as-Saji berguru kepada al-Imam ar-Rabi’ (w 270 H). Beliau ar-Rabi’ berguru kepada al-Imam al-‘Alim Abu Ibrahim Ismail al-Muzanni (w 264 H). Beliau al-Muzanni mengambil ilmu dari al-Imam al-Kabir asy-Syafi’i (W 204 H). Beliau al-Imam Asy-Syafi’i mengambil ilmu dari al-Imam Malik (w 179 H). Beliau imam Malik mengambil ilmu dari Nafi’. Beliau Nafi’ mengambil ilmu dari Abdullah Ibnu Umar. Beliau Ibnu Umar mengambil ilmu dari Rabi’ah. Beliau Rabi’ah mengambil ilmu dari Anas bin Malik. Beliau Anas bin Malik mengambil ilmu dari Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam.

Imam Asy-Syafi’i sendiri pun mengambil ilmu dari banyak ulama dan Tabi’in selain imam Malik, di antaranya mengambil ilmu dari Muslim bin Khalid. Beliau Muslim mengambil dari Ibnu Juraij. Beliau Ibnu Juraij mengambil dari ‘Atha. Beliau Atha mengambil dari Abdullah bin Abbas.

Imam Asy-Syafi’i juga mengambil ilmu dari Sufyan bin ‘Uyainah. Beliau Sufyan mengambil ilmu dari ‘Amr bin Dinar. Beliau ‘Amr mengambil ilmu dari Abdullah bin Umar. Beliau mengambil dari Abdullah bin Abbas.

Mengenai al-Imam al-Muzanni, dikatakan oleh al-Imam as-Subuki :

هو اسماعيل بن يحيي بن اسماعيل المزني ؛ ابو ابراهيم من أهل مصر و اصله
من مزينة . صاحب الامام الشافعي . كان زاهدا عالما مجتهدا قوي الحجة غواصا علي المعاني الدقيقة . وهو امام الشافعية . قال فيه الشافعي ( المزني ناصر
مذهبي
“Beliau adalah Ismail bin Yahya al-Muzanni; Abu Ibrahim dari penduduk Mesir, aslinya dari Muzayyanah, sahabat imam Syafi’i. seorang yang zuhud, alim, mujtahid, kuat hujjah, cerdas dari makna-makna yang lembut. Beliau adalah imam para ulama Syafi’iyyah. Imam asy-Syafi’i mengatakan tentangnya, “ Ia adalah pembela madzhabku “.[7]

Al-Hafidz Adz-Dzahabi mengatakan :

وَمِنْ جِلَّةِ تَلاَمِذَتِهِ: العَلاَّمَةُ أَبُو القَاسِمِ عُثْمَانُ بنُ بَشَّارٍ الأَنْمَاطيُّ شَيْخُ ابْنِ سُرَيْجٍ، وَشَيْخُ البَصْرَةِ زَكَرِيَّا بنُ يَحْيَى السَّاجِيُّ، وَلَمْ يلِ قَضَاءً وَكَانَ قَانعاً شَرِيْفَ النَّفْسِ
“Di antara murid besarnya adalah ; al-‘Allamah Abul Qasim Utsman bin Basysyar al-Anmathi guru Ibnu Suraij dan syaikh Bashrah yaitu Zakariya bin Yahya as-Saji. Beliau tidak pernah menjabat qadhi, seorang yang qana’ah dan mulia jiwanya “[8]

Abul Hasan al-Asy’ari dan al-Asy’ariyyah.
Syaikh Syamsuddin bin Khalkan mengatakan :

صاحب الأصول، والقائم بنصرة مذهب أهل السنة، وإليه تنسب الطائفة الأشعرية، وشهرته تغني عن الإطالة في تعريفه
“Abul Hasan adalah pakar di bidang ushul, penegak madzhab Ahlus sunnah, dan kepadanya lah kelompok al-Asy’ariyyah dinisbatkan. Tersohornya beliau sudah cukup untuk panjang lebar mengenalkannya “[9]

Al-Qurasyi al-Hanafi mengatakan :

صاحب الأصول الإمام الكبير وإليه تنسب الطائفة الأشعرية
“Abul Hasan adalah pakar di bidang ushul, seorang imam yang besar dan kepadanya lah dinisbatkan kelompok al-Asy’ariyyah “[10]

Abu Bakar bin Qadhi syuhbah mengatakan :

الشيخ أبو الحسن الأشعريّ البصريّ إمام المتكلمينَ وناصر سنّة سيد المرسلين، والذاب عن الدين
“Syaikh Abul Hasan al-Asy’ari al-Bashri adalah seorang imam para ahli kalam, penolong sunnah Nabi, dan penegak agama Islam “[11]

Imam Muhammad as-Safaraini mengatakan :

أهل السنة والجماعة ثلاث فرق :الأثرية وإمامهم أحمد بن حنبل رضي الله عنه والأشعرية وإمامهم أبو الحسن الأشعري والماتردية وإمامهم أبو منصور الماتريدي
“Ahlus sunnah wal Jama’ah ada tiga kelompok : Pertama kelompok al-Atsariyyah, pemimpin mereka adalah imam Ahmad bin Hanbal radhiallahu ‘anhu. Kedua kelompok al-Asy’ariyyah, pemimpin mereka adalah imam Abul Hasan al-Asy’ari. Ketiga kelompok al-Maturudiyyah, pemimpin mereka adalah imam Abu Manshur al-Maturudi “[12]

Mayoritas ulama Islam adalah al-Asy’ariyyah dan al-Maturudiyyah.
al-Imam Abu Manshur al-Baghdadi berkata:

ثُمَّ بَعْدَهُمْ شَيْخُ النَّظَرِ وَإِمَامُ اْلآَفَاقِ فِي الْجَدَلِ وَالتَّحْقِيْقِ أَبُو الْحَسَنِ عَلِيُّ بْنِ إِسْمَاعِيْلَ اْلأَشْعَرِيُّ الَّذِيْ صَارَ شَجاً فِيْ حُلُوْقِ الْقَدَرِيَّةِ …. وَقَدْ مَلأَ الدُّنْيَا كُتُبُهُ، وَمَا رُزِقَ أَحَدٌ مِنَ الْمُتَكَلِّمِيْنَ مِنَ التَّبَعِ مَا قَدْ رُزِقَ، لِأَنَّ جَمِيْعَ أَهْلِ الْحَدِيْثِ وَكُلَّ مَنْ لَمْ يَتَمَعْزَلْ مِنْ أَهْلِ الرَّأْيِ عَلىَ مَذْهَبِهِ.
“Pada generasi berikutnya adalah Guru Besar pemikiran dan pemimpin berbagai daerah dalam hal perdebatan dan penelitian, Abu al-Hasan Ali bin Ismail al-Asy’ari yang telah menjadi kesedihan dalam kerongkongan kaum Qadariyah … Buku-bukunya telah memenuhi dunia. Tak seorang pun dari ahli kalam yang memiliki pengikut sebanyak beliau, karena semua ahli hadits dan semua ahl al-ra’yi yang tidak mengikuti Mu’tazilah adalah pengikut madzhabnya”. (Al-Baghdadi, Ushul al-Din, hal. 309-310).

al-Imam Tajuddin al-Subki juga berkata:

وَهُوَ يَعْنِيْ مَذْهَبَ اْلأَشَاعِرَةِ مَذْهَبُ الْمُحَدِّثِيْنَ قَدِيْمًا وَحَدِيْثًا.
“Madzhab Asya’irah adalah madzhab para ahli hadits dulu dan sekarang”. (Al-Subki, Thabaqat al-Syafi’iyyah al-Kubra, juz 4, hal. 32.)

Imam Abdul Baqi al-Ba’li al-Hanbali mengatakan :

وللكلام على المقصد الثاني تقدمة،وهي أن طوائف أهل السنة ثلاثة:أشاعرة وحنابلة وماتريدية
“Untuk pembicaraan tujuan kedua telah ada pendahuluannya yaitu sesungguhnya kelompok Ahlus sunnah itu ada tiga : Asya’irah, Hanabilah dan Maturudiyyah “[13]

Muhammad bin Ibrahim Ibnul Wazir al-Yamani mengatakan :

اتفق أهل السنة : من أهل الأثر والنظر والأشعرية على أن الإرادة لا يصح أن تضاد العلم ولا يريد الله تعالى وجود ما قد علم أنه لا يوجد
“Ahlus sunnah : dari kalangan Ahlul Atsar, Nadzar dan al-Asy’ariyyah sepakat bahwasanya iradah itu tidak sah berlawanan dengan ilmu Allah dan Allah Ta’ala tidak berkhendak mewujudkan sesuatu yang Dia telah ketahui bahwasanya sesuatu itu tidak akan diwujudkan “[14]

Al-Hafidz Ibnu Hajar al-Atsqalani mengatakan :

البخاري في جميع ما يورده من تفسير الغريب إنما ينقله عن أهل ذلك الفن كأبي عبيدة والنضر بن شميل والفراء وغيرهم , وأما المباحث الفقهية فغالبها مستمدة له من الشافعي وأبي عبيـد وأمثالهـما , وأما المسائـل الكلامية فأكثرها من الكرابيـسي وابن كُـلاَّب ونحـوهما
“Imam Bukhari di semua apa yang ia bawakan dari tafsir yang gharib, sesungguhnya ia menukilnya dari para ulama yang pakar di bidangnya tersebut seperti Abu Ubaidah, an-Nadhar bin Syamil, al-Farra dan selain mereka. Adapun pembahasan fiqih, maka kebanyakannya beliau bersandar kepada imam Syafi’i, Abu Ubaid dan semisalnya. Adapun masalah kalam / tauhid, maka kebanyakannya beliau mengambilnya dari al-Karabisi dan Ibnu Kullab dan selainnya “[15]

Seluruh Ulama Ahlussunnah Wal Jamaah yang membawa ilmu warisan Rasulullah shallahu ‘alaihi wa aalihi sallam adalah Al Asy´ariyah dan Al Maturidiyah

Dari penjelasan para ulama besar di atas, menjadi jelas bagi kita bahwasanya kelompok al-Asy’ariyyah dan al-Maturudiyyah adalah kelompok terbesar dan mayoritas di seluruh belahan dunia ini sejak masa Abul Hasan al-Asy’ari yang mengikuti akidah ulama salaf sebelumnya hingga masa sekarang ini.

Para sahabat dan tabi’in adalah para pewaris dan penjaga ilmu agama terdahulu (mutaqaddimin), sedangkan al-Asy’ariyyah dan al-Maturudiyyah adalah para pewaris dan penjaga ilmu agama belakangan (mutaakhkhirin). Maka siapa saja yang menghina kelompok al-Asy’ariyyah dan al-Maturudiyyah, sama seja menghina para sahabat dan tabi’in. karena mereka lah kelompok Ahlus sunnah wal Jama’ah.

Jika kita merenungi dan melihat kelompok al-Asy’ariyyah dan al-Maturudiyyah, maka kita akan mengetahui bahwa mereka adalah para pembawa warisan ilmu Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka adalah para perawi hadits imam Bukhari, Muslim, Abu Dawud, at-Tirmidzi, an-Nasai, Ibnu Majah, Malik, Ahmad bin Hanbal, ath-Thabrani, ad-Daruquthni, Sa’id bin Manhsur, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, ath-Thayalisi, Abu ‘Awanah, ad-Darimi, al-Bazzar, Abu Ya’la dan lainnya. Mereka kalangan al-Asy’ariyyah dan al-Maturudiyyah menjadi para perawi imam-imam Hadits tersebut.

Tidak akan kita temukan satu sanad pun yang menyampaikan pada satu kitab, kecuali sanadnya ada dari kalangan al-Asy’ariyyah atau al-Maturudiyyah. Dan kita akan menemukan bahwa mereka adalah para perawi kitab hadits dan para pensyarah al-Bukhari seperti al-Kirmani, Ibnu Baththal, Ibnul Arabi, Ibnu ath-Thin, al-‘Aini, al-Qasthalani dan lainnya. Para pesnyarah Muslim seperti imam Nawawi, ‘Iyadh, al-Qurthubi, al-Ubay, as-Sanusi dan selainnya, demikianlah seterusnya kita akan menemukan bahwa merekalah para perawi dan pensyarah hadits. Mereka para musnid (pemilik sanad) kepada kitab-kitab hadits dan syarahnya. Mereka juga para perawi al-Quran dengan qiro’ahnya dan paa penafsir al-Quran.

Setiap orang di muka bumi ini yang membaca al-Quran dengan qiro’ah riwayat Hafsh dari ‘Ashim, maka sudah pasti dan wajib sanadnya melalui al-Muzahi, al-Asqathi, asy-Syibramilisi, Abdurrahman al-Yamani, an-Nashir ath-Thbalawi dan syaikh Islam Zakariyya al-Anshari. Sedangkan mereka semua adalah dari kalangan al-Asy’ariyyah. Demikian juga dalam ilmu Nahwu dan para pengarang kamus Mu’jam, seperti al-Jauhari, Ibnu Mandzhur, al-Fairus Abadi, al-Fayumi, az-Zubaidi, mereka semua dari kalangan al-Asy’ariyyah. Kita juga akan mendapatkan bahwa para ulama ahli fiqih madzhab Malikiyah, Syafi’iyyah, Fudhala Hanabilah adalah mayoritas dari kalangan al-Asy’ariyyah, sedangkan Hanafiyyah dari kalangan al-Maturudiyyah. Demikian juga dalam ilmu hadits, semua dari kalangan al-Asy’ariyyah atau al-Maturudiyyah.

Sungguh tidaklah kita membaca satu kitab hadits pun dengan sanadnya, terkecuali pasti akan melalui perawi yang berakidahkan al-Asy’ariyyah atau al-Maturudiyyah dan bersandar kepada mereka. Maka jika ada segelintir orang yang menghina al-Asy’ariyyah atau al-Maturudiyyah dan mengaku-ngaku pemahamannya paling benar, maka mereka adalah para pembual dan pecundang, kenapa demikian ? karena al-Asy’ariyyah dan al-Maturudiyyah mengisi di semua bidang keilmuan agama, mereka al-Asy’ariyyah dan al-Maturudiyyah adalah para perowi dan penaqal hadits, para pensyarah hadits, para perowi qiro’ah al-Quran, para ulama ahli fiqih, para ulama ahli Nahwu dan lainnya. Dan segelintir orang yang menghina ini, pasti dan senantiasa membutuhkan selamanya kepada para ulama al-Asy’ariyyah dan al-Maturudiyyah dalam semua bidang ilmu agama Islam.

Tidak akan sah sanad keilmuan mereka dalam al-Quran, hadits, bahasa dan fiqih, kecuali perowi dan rijalnya dari kalangan al-Asy’ariyyah atau al-Maturudiyyah. Karena para ulama al-Asy’ariyyah dan al-Maturudiyyah mengisi semua sanad keilmuan.

Semua pintu dan gerbang-gerbang keilmuan tabi’in, sahabat dan Rasulullah, pasti akan melalui ulama dari al-Asy’ariyyah dan al-Maturudiyyah. Tanyakan kepada mereka yang belajar al-Quran, sebutkan sanad mereka sampai kepada Nabi atau sahabat atau tabi’in, maka sudah pasti dalam sanad itu ada dari kalangan al-Asy’ariyyah atau al-Maturudiyyah, demikian juga orang yang belajar ilmu fiqih, hadits, dan bahasa.

 

[1] Tabyin Kizb al-Muftari :23-24 & 125

[2] Tafsir al-Qurthubi : 6/220

[3] Tabyin Kidzb al-Muftari

[4] Siyar A’lam an-Nubala : 14/198

[5] Thabaqat asy-Syafi’iyyah, as-Subuki : 3/356

[6] Thabaqat asy-Syafi’iyyah, Ibnu Qadhi Syuhbah : 1/95

[7] Thabaqat asy-Syafi’iyyah, as-Subuki : 1/239 juga dalam kitab Mu’jam al-Muallifin : 1/300

[8] Siyar A’lam an-Nubala : 10/135

[9] Wafiyyat al-A’yan : 3/284

[10] Al-Jawahir al-Murdhiyyah fi Thabaqatil Hanafiyyah : 21/544

[11] Thabaqat asy-Syafi’iyyah : 1/113

[12] Lawami’ al-Anwar : 1/73

[13] Al-‘Ain wa al-Atsar : 59

[14] Itsar al-Haq : 250

[15] Fath al-Bari : 1/293

Dari berbagai sumber di antaranya http://www.aswj-rg.com/2014/01/imam-abul-hasan-al-asyari-dan-asyariyyah.html

cropped-logokmib.png

Kategorien: Fardhu 'Ain

0 Kommentare

Schreibe einen Kommentar

Deine E-Mail-Adresse wird nicht veröffentlicht. Erforderliche Felder sind mit * markiert.

de_DEGerman