{"id":11070,"date":"2025-12-22T22:39:05","date_gmt":"2025-12-22T20:39:05","guid":{"rendered":"https:\/\/kmibremen.de\/?p=11070"},"modified":"2025-12-24T20:23:18","modified_gmt":"2025-12-24T18:23:18","slug":"al-qaul-al-mufid-fi-talkhish-ilmi-al-aqaid-10sifaf_a%e1%b9%a3-%e1%b9%a3idq-kejujuran","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/kmibremen.de\/de\/archive\/11070","title":{"rendered":"Al-Qaul al-Mufid fi Talkhish \u2018Ilmi al-Aqaid. (10)Sifat_ash-Shidq (Kejujuran)"},"content":{"rendered":"<p><em>Sifat a\u1e63-\u1e62idq (kejujuran) adalah kesesuaian kabar (informasi) dengan kenyataan, dan lawannya adalah kebohongan. Maka makna keberadaan Nabi sebagai sosok yang jujur, bahwa ucapannya sesuai dengan fakta, dan bahwa dia jujur dalam pengakuannya sebagai nabi. Karena seandainya dia disifati dengan kebohongan, maka konsekuensinya kebohongan itu berlaku bagi informasi yang berasal dari Allah (ada kebohongan dalam informasi yang disampaikan oleh Allah), padahal nabi itu telah Dia benarkan dengan mu\u2019jiz\u0101t, sedangkan kebohongan itu mustahil bagi Allah berdasarkan kesepakatan semua orang.<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Jujur itu artinya kesesuaian antara informasi dengan fakta<\/strong>. Nabi yang merupakan utusan Allah itu harus jujur, sebab kalau nabi itu bohong, berarti Allah \u2013 yang mengutus si pembohong dan mendukungnya dengan mukjizat \u2013 juga merupakan pembohong. Rasulullah \ufdfa yang mengaku utusan Allah kepada umat manusia telah didukung oleh Allah dengan mukjizat, maka mustahil dia bohong. <strong>Pengakuan sebagai nabi adalah suatu pengakuan yang sangat besar, oleh karena itu harus didukung dengan sebuah mukjizat yang luar biasa yang tidak bisa ditandingi oleh yang lain<\/strong>. Namun sesuatu yang terjadi di luar kebiasaan belum tentu disebut mukjizat.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Sesuatu yang di luar kebiasaan itu terbagi menjadi beberapa istilah, tergantung pada orang yang terkait padanya:<\/p>\n\n\n\n<ul>\n<li><strong><em>Mu\u2019jiz\u0101h, <\/em><\/strong><strong>kejadian luar biasa yang menunjukkan kebenaran klaim seorang nabi.<\/strong> Contohnya al-Qur\u2019an yang menantang para pembuat syair sepanjang zaman, dan banyak kejadian luar biasa dalam sirah nabawiyah, atau mukjizat Nabi Isa \u2018<em>alaihissal\u0101m<\/em> yang menghidupkan orang mati sebagai tantangan bagi ahli medis di zamannya, atau Nabi Musa <em>alaihissal\u0101m<\/em> yang mengalahkan tukang sihir di masanya.<\/li>\n\n\n\n<li><em>Irh\u0101\u1e63,<\/em> terjadi pada seorang nabi di masa mudanya sebelum turunnya wahyu, sebagai tanda kenabiannya yang akan datang. Contohnya bahwa Nabi Muhammad \ufdfa sering dinaungi awan ke manapun beliau berjalan, yang telah ada dalam kitab- kitab samawi terdahulu.<\/li>\n\n\n\n<li><em>Kar\u0101mah, <\/em>terjadi pada wali Allah sebagai kemuliaan dari Allah kepada wali-Nya<\/li>\n\n\n\n<li><em>Ma\u2019\u016bnah, <\/em>terjadi pada orang beriman yang awam yang bukan wali Allah.<\/li>\n\n\n\n<li><em>Ih\u0101nah, <\/em>kejadian yang terjadi pada orang yang mengaku nabi, namun mendustakan kenabiannya. Contohnya pada nabi palsu Musailamah <em>al-Ka\u017c\u017c\u0101b&nbsp;<\/em><\/li>\n\n\n\n<li><em>Istidr\u0101j<\/em>, keajaiban yang terjadi untuk menghinakan pelakunya, yang terjadi pada orang kafir, sekaligus sebagai ujian keimanan bagi orang beriman. Contohnya keajaiban yang dilakukan oleh <em>dajj\u0101l <\/em>yang mengaku sebagai tuhan.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p>Syarat-syarat sesuatu dianggap mukjizat, dinyatakan oleh Imam al-B\u0101j\u016br\u012b dalam kitabnya:<\/p>\n\n\n\n<ol>\n<li>Sesuatu yang luar biasa (<em>kh\u0101riqun lil-\u2018\u0101dah<\/em>), Harus bertentangan dengan kebiasaan\/hukum alam (bukan sesuatu yang bisa dijelaskan secara biasa).<\/li>\n\n\n\n<li>Muncul dari orang yang mengaku sebagai Nabi atau Rasul.&nbsp;<\/li>\n\n\n\n<li>Sesuai atau cocok dengan klaim kenabiannya. Misalnya dia mengaku bisa membuat batu berbicara, maka batu ini mampu berbicara, tapi bukan berbicara untuk justru mendustakannya.<\/li>\n\n\n\n<li>Terjadi pada waktu orang tersebut menyampaikan klaim kenabiannya (bukan jauh sebelumnya atau sesudahnya).&nbsp;<\/li>\n\n\n\n<li>Mengandung unsur tantangan kepada yang mengingkarinya, yaitu menantang lawan untuk mendatangkan hal serupa.&nbsp;<\/li>\n\n\n\n<li>Lawan atau penentangnya tidak mampu menandingi atau meniru mukjizat tersebut meskipun berusaha dengan seluruh kekuatannya.<\/li>\n\n\n\n<li>Tidak ada yang bisa menandinginya, yakni tidak boleh ada orang lain yang bukan Nabi bisa melakukan hal serupa yang dapat membingungkan umat.<\/li>\n<\/ol>\n\n\n\n<p>Bahwa al-Qur\u2019an merupakan mukjizat itu dapat diketahui jika seseorang menjadi ahli bahasa Arab, atau orang awam mendapat informasi kemukjizatannya dari seorang yang ahli bahasa Arab. Al-Qur\u2019an mengandung semua syarat yang dituliskan di atas: Menyalahi kebiasaan dan tidak dapat dijelaskan secara biasa, dari gaya bahasa yang luar biasa, keilmuan, informasi gaib di dalamnya, keterjagaannya selama berabad lamanya, dll; Turun bersamaan dengan klaim Nabi Muhammad \ufdfa sebagai Rasul; Tantangan kepada manusia dan jin untuk membuat surat serupa; Tidak seorang pun sanggup menandinginya.<\/p>\n\n\n\n<p>(Muhammad Rayyan Makiatu),<br><a rel=\"noreferrer noopener\" href=\"https:\/\/www.youtube.com\/playlist?list=PLv-5GH7WeGLsFX8eVxGGiZA2nbLfWpBw8\" target=\"_blank\">Video (Playlist) di Youtube Channel Official Media KMIB<\/a>.<\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sifat a\u1e63-\u1e62idq (kejujuran) adalah kesesuaian kabar (informasi) dengan kenyataan, dan lawannya adalah kebohongan. Maka makna keberadaan Nabi sebagai sosok yang jujur, bahwa ucapannya sesuai dengan fakta, dan bahwa dia jujur dalam pengakuannya sebagai nabi. Karena seandainya dia disifati dengan kebohongan, maka konsekuensinya kebohongan itu berlaku bagi informasi yang berasal dari [&hellip;]<\/p>","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":[],"categories":[32,9],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/kmibremen.de\/de\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/11070"}],"collection":[{"href":"https:\/\/kmibremen.de\/de\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/kmibremen.de\/de\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kmibremen.de\/de\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kmibremen.de\/de\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=11070"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/kmibremen.de\/de\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/11070\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":11072,"href":"https:\/\/kmibremen.de\/de\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/11070\/revisions\/11072"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/kmibremen.de\/de\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=11070"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/kmibremen.de\/de\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=11070"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/kmibremen.de\/de\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=11070"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}