{"id":11052,"date":"2025-10-31T09:47:48","date_gmt":"2025-10-31T07:47:48","guid":{"rendered":"https:\/\/kmibremen.de\/?p=11052"},"modified":"2025-12-22T22:21:47","modified_gmt":"2025-12-22T20:21:47","slug":"al-qaul-al-mufid-fi-talkhish-ilmi-al-aqaid-7sifat-ilmu-hayat-sama-bashar-dan-kalam","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/kmibremen.de\/de\/archive\/11052","title":{"rendered":"Al-Qaul al-Mufid fi Talkhish \u2018Ilmi al-Aqaid. (7)Pembahasan Sifat Ilmu, Hayat, Sama&#8217;, Bashar dan Kalam"},"content":{"rendered":"<h2 class=\"wp-block-heading\">Sifat <em>al-\u2018Ilm <\/em>(Pengetahuan)<\/h2>\n\n\n\n<p><em>Sifat al-\u2018Ilm (pengetahuan) maknanya sifat yang qad\u012bm yang berada pada Dzat Allah yang tersingkap dengannya sesuatu yang diketahui dari yang wajib, yang mungkin, dan yang mustahil. Dan tetapnya sifat pengetahuan itu jelas, karena seandainya Allah tidak mengetahui, maka Dia disifati dengan kebalikannya, yaitu ketidaktahuan, dan tidak masuk akal Sang Pencipta disifati dengan kekurangan ini. Dan al-Qur\u2019an menetapkan pengetahuan Allah dalam banyak ayat, di antaranya firman Allah: \u201cAllah Maha Mengetahui segala sesuatu.\u201d (QS. Al-A\u1e25z\u0101b: 40)<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>Mengetahui maknanya menyingkap segala sesuatu, sehingga tampak dalam pengetahuan, bukan mengadakan maupun meniadakan. Pengetahuan Allah \ufdfb tidak ada awalnya, artinya Allah \ufdfb tahu bukan sebelumnya didahului tidak tahu, melainkan selalu tahu segala sesuatu, karena pengetahuannya bersifat <em>qad\u012bm<\/em>. Adapun pengetahuan manusia dapat bertambah setelah tersingkap sesuatu di hadapannya, atau setelah ada proses belajar.<\/p>\n\n\n\n<p><em>Ta\u2019alluq<\/em> (keterkaitan) sifat pengetahuan Allah \ufdfb berkaitan dengan segala sesuatu, baik yang wajib, yang mungkin maupun yang mustahil. yaitu bukan hanya yang mungkin, melainkan juga yang wajib dan yang mustahil. Maka Allah \ufdfb mengetahui segala sesuatu tentang DiriNya yang wajib WujudNya, segala sesuatu tentang makhluk yang mungkin wujudnya, dan segala sesuatu yang mustahil akan wujudnya.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Tentang Takdir dan Pengetahuan Allah \ufdfb<\/h3>\n\n\n\n<p>Allah \ufdfb menakdirkan sesuatu bukan artinya Allah \ufdfb memaksa, melainkan Dia telah mengetahui apa yang akan terjadi. <em>Qa\u1e0da<\/em> itu artinya pengetahuan Allah \ufdfb tentang apa yang terjadi, karena pengetahuan Allah \ufdfb tidak terbatas oleh waktu. Allah \ufdfb tahu sebelum segala semuanya terjadi. <em>Qadar<\/em> artinya terwujudnya sesuatu sesuai dengan pengetahuan Allah \ufdfb. Jadi, takdir itu tidak mengandung unsur pemaksaan terhadap makhluk, melainkan bahwa Allah \ufdfb telah menyingkap dan menetapkan segala-galanya, sedangkan kita tidak pernah tahu isinya. Di kehidupan sehari-hari, kita diberi kebebasan untuk memilih, berpikir, mengindra, belajar, dan sebagainya. Setelah sesuatu terjadi, baru lah kita tahu bahwa yang terjadi itu lah takdir Allah \ufdfb.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Sifat al-\u1e24ay\u0101t (Kehidupan)<\/h2>\n\n\n\n<p><em>Sifat al-\u1e24ay\u0101t (kehidupan) artinya sifat Allah \ufdfb&nbsp; yang qad\u012bm yang berada pada Dzat Allah \ufdfb&nbsp; yang dengannya Allah sah bersifat dengan sifat kekuasaan (qudrah), kehendak (ir\u0101dah), pengetahuan (\u2018ilm), dan selainnya dari sifat-sifat ma\u2019\u0101n\u012b. Dalilnya firman Allah \ufdfb : \u201cAllah, tidak ada Tuhan selain Dia, Yang Maha Hidup lagi terus-menerus mengurus (makhluk-Nya).\u201d (QS. Al-Baqarah: 255)<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>Sifat <em>kuasa<\/em>, <em>kehendak<\/em>, <em>pengetahuan<\/em>, <em>pendengaran<\/em>, <em>penglihatan<\/em>, <em>pembicaraan<\/em> tidak mungkin ada kalau tidak ada sifat <em>kehidupan<\/em>. Maka sifat <em>kehidupan<\/em> ini menjadi asas dari terdapatnya sifat-sifat <em>ma\u2019\u0101n\u012b<\/em> yang lain.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Sifat <em>as-Sama\u2019<\/em> (Pendengaran)<\/h2>\n\n\n\n<p><em>Sifat pendengaran maknanya sifat yang qad\u012bm yang berada pada Dzat Allah \ufdfb , yang dengannya Dia menyingkap seluruh bentuk suara yang ada dengan ketersingkapan yang sempurna, tetapi ketersingkapan ini berbeda dengan ketersingkapannya sifat \u2018ilm. Allah \ufdfb&nbsp; mendengar semua suara yang ada tanpa bergantung pada alat (pendengaran), karena pendengaran dengan alat berkonsekuensi pada kebutuhan (kepada alat itu), sedangkan Tuhan itu tidak mungkin berkebutuhan, kalau tidak demikian, maka Dia sama dengan makhluk, dan itu mustahil berdasarkan pembahasan yang telah lewat.<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>Allah \ufdfb mendengar, melihat dan berbicara dengan cara yang secara absolut berbeda dengan makhluk. Allah \ufdfb mendengar secara sempurna, tidak bergantung pada waktu, jarak jangkauan, intensitas suara, dll. Pendengaran menyingkap sesuatu berbeda dengan pengetahuan. Pada manusia, kita bisa membedakan apa yang didengar dengan apa yang diketahui. Semua yang Allah dengar dan lihat, sudah pasti Allah ketahui. Namun sifat mendengar dan melihat ditekankan lagi untuk memperjelas sifat kesempurnaan bagi Allah \ufdfb, yang tidak punya kecacatan.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Sifat <em>al-Ba\u1e63ar<\/em> (Penglihatan)<\/h2>\n\n\n\n<p><em>Sifat penglihatan maknanya sifat yang qad\u012bm yang berada pada Dzat Allah \ufdfb&nbsp; yang dengannya tersingkap bagi-Nya seluruh jenis hal yang tersaksikan (yang ada), dan ini bukan dengan indra juga bukan anggota tubuh, seperti penglihatannya makhluk, karena Dia tersucikan dari kebutuhan. Dan banyak ayat dalam al-Qur\u2019an telah membuktikan keberadaan kedua sifat as-sam\u2019 dan al-ba\u1e63ar, di antaranya: \u201cAllah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.\u201d (QS. An-Nis\u0101`:134)<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>Penglihatan Allah \ufdfb sebagaimana juga pendengarannya, berkaitan dengan sesuatu yang ada, bukan yang tidak ada.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Sifat <em>al-Kal\u0101m<\/em> (Firman)<\/h2>\n\n\n\n<p><em>Sifat al-Kal\u0101m maknanya sifat yang qad\u012bm yang berada pada Dzat Allah \ufdfb , yang berkaitan dengan apa yang menjadi keterkaitan sifat al-\u2018Ilm (yakni yang wajib, mustahil dan mungkin), yaitu keterkaitan sebagai penunjuk. Allah \ufdfb&nbsp; berbicara tentang diri-Nya, dan tentang selain diri-Nya dengan kal\u0101m nafs\u012b yang qad\u012bm, dan kal\u0101m nafs\u012b itu ditunjukkan oleh kalam laf\u1e93i-Nya yang h\u0101di\u1e61. Dan adapun kal\u0101m nafs\u012b-Nya itu tidak berupa huruf, tidak berupa suara, dan tidak menyerupai perkataan makhluk.<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em>Dan dalilnya firman Allah: \u201cAda beberapa rasul yang telah Kami ceritakan (kisah) tentang mereka kepadamu sebelumnya dan ada (pula) beberapa rasul (lain) yang tidak Kami ceritakan (kisah) tentang mereka kepadamu. Allah telah benar-benar berbicara kepada Musa (secara langsung).\u201d (QS. An-Nis\u0101`: 164)<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>Sebagian orang menyangka bahwa Allah \ufdfb berbicara dengan suara dan huruf seperti halnya makhluk, namun ini tidak sesuai dengan akidah <em>Ahlussunnah wal Jam\u0101\u2019ah<\/em>. <strong>Sifat <\/strong><strong><em>kal\u0101m<\/em><\/strong><strong> (berbicara) Allah \ufdfb adalah sifat yang <\/strong><strong><em>qad\u012bm<\/em><\/strong><strong> dan tidak menyerupai ucapan makhluk.<\/strong> Allah tidak berbicara dengan suara, huruf, atau dalam susunan bahasa tertentu, karena semua itu memerlukan alat, terjadi dalam waktu, dan merupakan ciri makhluk. <strong>Allah \ufdfb berbicara dengan cara yang layak bagi Dzat-Nya<\/strong>, dan kita tidak tahu bagaimana pembicaraan ini.<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam istilah <em>ilmu kal\u0101m<\/em>, <em>kal\u0101m<\/em> Allah \ufdfb terbagi dalam dua pengertian: <em>kal\u0101m nafs\u012b<\/em> dan <em>kal\u0101m laf<\/em><em>\u1e93<\/em><em>\u012b<\/em>.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<ol>\n<li><strong><em>Kal\u0101m nafs\u012b<\/em><\/strong><strong> adalah <\/strong><strong><em>sifat qad\u012bm<\/em><\/strong><strong> yang ada pada Dzat Allah \ufdfb<\/strong>, tidak tersusun dari suara atau huruf, tidak berubah, dan tidak bergantung pada bahasa.&nbsp;<\/li>\n\n\n\n<li>Adapun <strong><em>kal\u0101m laf<\/em><\/strong><strong><em>\u1e93<\/em><\/strong><strong><em>\u012b<\/em><\/strong><strong> adalah ungkapan atau bentuk penyampaian <\/strong><strong><em>kal\u0101m nafs\u012b<\/em><\/strong><strong> dalam bentuk lafaz dan bahasa yang bisa dipahami manusia<\/strong>, seperti al-Qur\u2019an yang diturunkan dalam bahasa Arab kepada Nabi Muhammad \ufdfa, Taurat yang diturunkan kepada Nabi Musa, Injil yang diturunkan kepada Nabi Isa, atau suhuf yang diwahyukan kepada Nabi Ibrahim, dan kepada orang-orang pilihan-Nya \u2018<em>alaihimussal\u0101m<\/em>.&nbsp;<\/li>\n<\/ol>\n\n\n\n<p>Analoginya kalam nafsi adalah ketika seseorang berbicara dalam pikirannya, di mana pembicaraannya luas, tidak terstruktur, dan kalam lafzi adalah kalam nafsi yang telah disusun dan disesuaikan dengan pemahaman lawan bicara. Walaupun tetap perlu diingat bahwa analogi ini sekedar penyederhanaan saja, sedangkan Allah sangat berbeda dengan makhluk, dan hakikatnya tidak terjangkau.<\/p>\n\n\n\n<p>Maka, al-Qur\u2019an yang kita baca dan dengar itu merupakan <strong><em>kal\u0101m laf\u1e93\u012b<\/em><\/strong>, dari sisi susunan, huruf, lafaz dan suara, tetapi ia <strong>menunjuk<\/strong> kepada makna <strong><em>kal\u0101m nafs\u012b<\/em><\/strong> Allah \ufdfb yang <em>qad\u012bm<\/em>. Dengan demikian, al-Qur\u2019an yang kita pahami dan baca bukanlah <em>kal\u0101m<\/em> Allah \ufdfb yang bersifat <em>qad\u012bm<\/em>, melainkan lafaz yang Allah ciptakan dan susunkan \u2013 dalam bahasa Arab, yang diwahyukan kepada Rasulullah \ufdfa melalui Malaikat Jibril <em>\u2018alaihissal\u0101m,<\/em> kemudian disampaikan melalui lisan Rasulullah \ufdfa kepada para Sahabat, dan diriwayatkan secara <em>mutaw\u0101tir<\/em> melalui hafalan dan pengajaran antara guru-murid dari berbagai jalur pengajaran yang masif dari generasi ke generasi, hingga sampai kepada kita dalam keadaan utuh dan terjaga dari perubahan \u2013 sebagai petunjuk (<em>dal\u0101lah<\/em>) bagi <em>kal\u0101m<\/em> -Nya yang <em>qad\u012bm<\/em>.<\/p>\n\n\n\n<p>(Muhammad Rayyan Makiatu),<br><a rel=\"noreferrer noopener\" href=\"https:\/\/www.youtube.com\/playlist?list=PLv-5GH7WeGLsFX8eVxGGiZA2nbLfWpBw8\" target=\"_blank\">Video (Playlist) di Youtube Channel Official Media KMIB<\/a>.<\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sifat al-\u2018Ilm (Pengetahuan) Sifat al-\u2018Ilm (pengetahuan) maknanya sifat yang qad\u012bm yang berada pada Dzat Allah yang tersingkap dengannya sesuatu yang diketahui dari yang wajib, yang mungkin, dan yang mustahil. Dan tetapnya sifat pengetahuan itu jelas, karena seandainya Allah tidak mengetahui, maka Dia disifati dengan kebalikannya, yaitu ketidaktahuan, dan tidak masuk [&hellip;]<\/p>","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":[],"categories":[32,9],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/kmibremen.de\/de\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/11052"}],"collection":[{"href":"https:\/\/kmibremen.de\/de\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/kmibremen.de\/de\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kmibremen.de\/de\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kmibremen.de\/de\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=11052"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/kmibremen.de\/de\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/11052\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":11062,"href":"https:\/\/kmibremen.de\/de\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/11052\/revisions\/11062"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/kmibremen.de\/de\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=11052"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/kmibremen.de\/de\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=11052"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/kmibremen.de\/de\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=11052"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}