Mengingat Mati

Imam Ghazali mengatakan orang yang mengingat mati adalah tanda orang yang cinta kepada Allah. Jika kita takut mati karena kita merasa kurang amal itu dibolehkan. Namun jika kita takut mati karena kita kehilangan jabatan, maka itu disebuut kurang mengingati mati.
Seorang Ulama dari Tabi’in mengatakan, jika kita mengingat mati, maka biasanya kenikmatan dunia yang sedang kita rasakan menjadi tidak nikmat. Misalnya ketika kita hendak makan kemudian kita tahu bahwa 1 jam lagi kita mati atau mendengar berita kematian saudara dekat kita kita, maka menghilangkan nafsu makan kita. Sebenarnya mengingati mati bukanlah perkara yang mengerikan. Maka beliau menasehati agar kita mengingati mati, dengan kita selalu mencari nikmat Allah yang terus dapat kita rasakan dan tidak terganggu karena kematian. Yaitu nikmat beribadah atau amal soleh seperti sholat atau menuntut ilmu. seperti yang sedang kita lakukan sekarang. Maka ketika kita misalnya tahu sebentar lagi akan meninggalkan, kita tetap dapat merasakan nikmat sholat dan menuntut ilmu. Karena nikmat beribadah kepada Allah tidak akan hilang oleh sebab kematian. Jadi inilah sebenarnya bagaimana kita mengingati mati.

Fasal 2

Terjemah:

Allah Mahabenar bertajalli. Dalam alam kudus-Nya yang amat luas. Menetapkan penyebaran anugerah-Nya. Pada yang dekat dan jauh tak terkecuali.

Maka hanya bagi-Nya segala puji. Tiada terhingga bilangannya. Tiada menjemukan pengulangan sebutannya. Betapapun sering diulang-ulang. Atas perkenan-Nya menampilkan di alam kenyataan. Perwujudan semulia-mulia insan. Agar seluruh makhluk beroleh kemuliaan. Tiada terhingga. Dengan rahasia keutamaan yang mengiringi kehadirannya. Tersebar merata di seluruh alam semesta.

Maka tiada satu pun rahasia itu. Menyentuh menyatu dengan qalbu yang sadar. Kecuali pasti karena curahan karunia Allah. Melalui insan tersayang ini.

Pujian berulang-ulang kepada Allah dan Rasulullah shallallahu alaihi wassalam tidak akan membosankan

Pujian Allah itu tidak terbatas. Kita tidak akan kehabisan bahan untuk memujiNya. Demikian juga pujian kepada Rasulullah tidak akan membosankan walaupun kita lakukan berulang-ulang. Karena Allah adalah memang Dzat yang layak dipuji. Tuhan Yang Maha Hebat Yang Menciptakan alam semesta, maka sudah sepatutnya kita selalu memujiNya sebagai tanda syukur kita atas nikmatNya yang tak putus-putus.
Allah menciptakan Rasulullah sebagai nikmat yangh terbesar untuk alam ini. Allah sendiri memuji Rasulullah dan bersholawat serta menyuruh kita untuk bersholawat kepadanya, maka Rasulullah pun adalah dzat yang layak untuk dipuji. Bersyukurlah kita, bahwa kita dijadikan bagian dari umat Nabi Muhammad shallallahu alaihi wassalam.

Apapun menjadi mulia karena tersambung dengan Nabi Muhammad. Semua makhluk merasakan rahmat Allah melalui Nabi Muhammad, baik orang beriman maupun orang yang tidak beriman, demikian juga hewan dan tumbuh-tumbuhan serta semua makhluk Allah yang lain. Namun bagi yang beriman akan mendapat rahmat Allah hingga ke Akhirat.

Cita-cita terbesar Nabi Muhammad shallallahu alaihi wassalam adalah agar tidak seorangpun masuk ke neraka

Kasih sayang Nabi Muhammad sangat besar kepada manusia, sehingga beliau sangat berharap bahwa tidak seorangpun masuk ke neraka. Beliau menangis melihat jenazah dari orang yang tak beriman. Beliau merasa kasihan dan sedih karena tak dapat menyelamatkannya.
Ada orang Yahudi tetangga Rasulullah yang selalu berkhdmat kepada Rasul. Suatu kali tetangganya itu sakit terbaring dirumahnya. Rasulullah pun menjenguknya. Beliau tahu bahwa orang itu sudah sakit sangat parah dan akan meninggal dunia. Maka Rasul memintanya untuk masuk agama Islam. Orang tua dari orang Yahudi itu yang ada disitu berkata kepada anaknya yang sakit itu agar mengikuti Nabi untuk masuk agama Islam. Maka orang Yahudi itu masuk Islam, dan tak lama kemudian orang itu meninggal dunia. Rasulullah sangat bergembira dan bersyukur sekali karena telah menyelamat satu orang dari api neraka.
Demikianlah besarnya harapan Nabi Muhammad shallallahu alaihi wassalam agar semua orang menjadi beriman dan selamat dari api neraka. Seluruh hidupnya beliau persembahkan untuk menebarkan rahmat Allah ke seluruh makhluk Allah. Sekali betapa bersyukurnya kita menjadi bagian dari Umat beliau shallallahu alaihi wassalam.

Qolbun Munib mendapat limpahan dan percikan dari anugerah Allah untuk Nabi Muhammad shallallahu wassalam

Qolbun Munib (hati yang bertaubat) disebutkan dalam QS Al Qaf: 33

مَّنْ خَشِىَ ٱلرَّحْمَٰنَ بِٱلْغَيْبِ وَجَآءَ بِقَلْبٍ مُّنِيبٍ

Terjemah Arti: (Yaitu) orang yang takut kepada Tuhan Yang Maha Pemurah sedang Dia tidak kelihatan (olehnya) dan dia datang dengan hati yang bertaubat,

Qolbun Munib menurut beberapa tafsir adalah hati mempunyai 3 sifat yaitu:
1. Mukhlis, hati yang ikhlas, tulus.
2. Muqbil, hati yang menuju/mendekat kepada Allah
3. Taib, hati yang selalu bertaubat.
Semua anugerah yang didapat oleh Qolbun Munib adalah limpahan dan percikan anugerah Allah kepada Nabi Muhammad. Oleh sebab itu orang yang dekat dan bersambung kepada Nabi Muhammad akan cepat mendapat anugerah dan menjadikannya mempunyai hati yang bertaubat.

Mungkinkah watak manusia berubah?

Imam Ghazali mengatakan watak manusia bisa berubah. Ini dapat terjadi dengan limpahan anugerah Allah melalui Rasulullah. Sayidina Umar bin Khattab r.a. Beliau dahulunya adalah orang yang keras dan kejam sebelum masuk Islam. Dahulu, kalau orang bertemu Sayidina Umar, tidak dipukul adalah sudah merupakan “suatu kebaikan”. Setelah masuk Islam, sifat kerasnya masih ada, karena itu yang diharapkan ketika Nabi berdoa agar salah satu dari dua Umar yaitu Umar bin Khattab dan Umar bin Hakam (Abu Jahal) masuk Islam untuk menguatkan Islam. Dan Sayidini Umar bin Khattab yang kemudian dipilih masuk Islam. Namun setelah masuk Islam sifat kerasnya digunakan untuk membela Islam. Namun beliau mempunyai Qolbun Munib.
Dalam suatu hadits dhoif, disebutkan hati dapat berkarat, sebagaimana berkaratnya besi. Kemudian Nabi ditanya bagaimana cara untuk membersihkan hati dari karat. Nabi menjawab yaitu dengan memperbanyak bersholawat. Dalam riwayat yang lain, dijawab dengan Dzikrullah. membaca sholawat adalah salah satu jenis dzikrullah. Intinya agar kita selalu berhubungan dengan Nabi Muhammad agar mendapatkan hati yang bertaubat (Qolbun Munib).

Manusia menjadi mulia karena dihubungkan dengan Rasulullah

Kota Mekkah dan Madinah menjadi tanah yang mulia karena berhubungan dengan Rasulullah shallallahu alaihi wassalam. Para Shahabat r.a. menjadi mulia disebut Shahabat karena beriman dan pernah bertemu dengan Nabi Muhammad.
Raja para wali di zaman salaf yairtu Imam Junaid Al Baghdadi ditanya: “Wahai Imam Junaid, engkau adalah wali yang sangat mulia, bagaimanakah kemuliaanmu dibanding dengan Shahabat yang paling rendah derajatnya?” Dijawab oleh Imam Junaid: ” Debu yang menempel di kaki Shahabat yang paling rendah derajatnya masih jauh lebih afdhol (mulia) dari 70 Junaid”. Demikian tingginya kemuliaan Shahabat Nabi karena bersambung begitu dekat dengan Nabi Muhammad.
Demikian juga para Shahabat sangat memuliakan apa saja yang berhubungan dengan Nabi. Di zaman Khalifah Sayidina Umar ada sebuah talang dianggapnya mengganggu, kemudian dipindah oleh Khalifah Umar bin Khattab. Tak lama kemudian Sayidina Abbas bin Abdul Mutthalib lewat talang itu dan bertanya kepada orang yang ada disitu.
“Siapa yang memindakan talang ini?”,
Dijawab: “Khalifat Umar bin Khattab”.
Kata Sayidina Abbas:” Kalau begitu dikembalikan lagi ke tempat semula”. Orang itu menjawab: “Silakan sampaikan ke Khalifah Umar”.
Sayidina Abbas kemudian menjumpai Sayidina Umar,
“Wahai Khalifah, mohon talang itu dikembalikan ke tempat semula”. Sayidina Umar menjawab:”Talang itu mengganggu”.
Sayidina Abbas berkata:” Tahukah engkau siapa yang memasang talang itu?”. Sayidina Umar menjawab; “tidak tahu”.
Sayidina Abbas berkata “Sesungguhnya yang memasang talang itu adalag Rasulullah shallallahu alaihi wassalam.” Maka Sayidina Umar menangis, dan langsung berjalan menuju talamg itu. Kemudian meminta Sayidina Abbas naik ke pundaknya untuk memindahkan talang itu ke tempat semula, sebagai penghormatan kepada talang yang telah dipegang dan dipasang oleh Rasulullah shallallahu alaihi wassalam.
Ini menunjukkan apa saja yang disambungkan dengan Nabi Muhammad akan mulia. Masakkan kita tidak ingin disambungkan dengan Nabi Muhammad?

Bagaimana cara menyambungkan diri kepada Nabi Muhammad

Usahakan hati kita selalu rindu kepada Nabi Muhammad shallallahu alaihi wassalam. Kita ikuti sunnah Nabi. Ketika kita makan, kita ingat Nabi makan dengan tangan kanan. Kalau kita tidur, kita miringkan badan kita ke kanan, kita ingat bahwa Nabi Muhammad ketika tidur dengan memiringkan badannya ke kanan.
Ketika Mi’raj, Malaikat Jibril mengantarkan Nabi tetapi tidak dapat terus menemani sampai ke Sidratul Muntaha. Namun sandal Nabi boleh menemani Nabi, sebab sandal Nabi melekat pada kaki Nabi Muhammad shallallahu alaihi wassalam.
Maka sambungkanlah diri dengan Nabi Muhammad. Perbanyak shalawat kepadanya, Baca riwayat hidup Nabi Muhammad. Semoga kita dapat bersambung dengan Nabi Muhammad shallallahu alaihi wassalam.

Wallahu a’lam


0 Kommentare

Schreibe einen Kommentar

Deine E-Mail-Adresse wird nicht veröffentlicht. Erforderliche Felder sind mit * markiert.

de_DEGerman